Tradisi Ritual Malam Satu Suro (1 Muharram) di Jawa

klg asli

berhasil
jenis macam Tradisi Ritual Malam Satu Suro 1 Muharram di Jawa jogja Indonesia

Tradisi Ritual Malam Tahun Baru Islam Satu Suro (1 Muharram) - Setiap malam pergantian tahun tiba, biasanya ditandai dengan berbagai kemeriahan, seperti pesta kembang api, keramaian tiupan terompet, maupun berbagai arak-arakan di malam pergantian tahun. Tapi tidak demikian dengan pergantian tahun baru Jawa yang jatuh tiap malam satu Suro (1 Muharram) yang tidak disambut dengan kemeriahan.

Kebalikan dari malam-malam tahun baru umumnya, tahun baru Jawa, atau malam satu Suro, justru diperingati dengan berbagai ritual sebagai bentuk introspeksi diri. Salah satu ritual yang dilakukan masyarakat Jawa di antaranya tirakatan dan ngumbah pusaka (membersihkan pusaka, bisa keris atau pusaka lainnya).

Selain dua ritual itu, sebenarnya masih banyak ritual lain yang digelar di kalangan masyarakat Jawa ini. Berikut ini tujuh tradisi dan ritual yang biasa di gelar di malam satu Muharram tahun baru Islam (1 suro): (wartainfo.com

1. Ritual Ngumbah keris (mencuci keris)

Foto gambar Ngumbah keris pusaka tradisi ritual malam satu suro 1 muharram di jawa

Keris, sebuah senjata pusaka yang sangat erat kaitannya dengan tradisi masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa dikenal dengan senjata andalannya yaitu keris yang kerap digunakan sebagai jimat.

Banyak sekali nama-nama keris Jawa yang cukup terkenal, misalnya keris Mpu Gandring sebuah keris yang dimiliki oleh Ken Arok yang kemudian menjadi Raja Singosari yang pertama. Keris Kyai Sengkelat, keris Nogososro Sabuk Inten dan keris-keris lain yang mungkin dinamakan sesuai dengan pembuatnya.

Di malam satu suro salah satu ritual paling popular adalah ngumbah keris (membersihkan keris). Ritual ini adalah tradisi mencuci/membersihkan keris pusaka bagi orang yang memilikinya. Dalam tradisi masyarakat Jawa, ngumbah keris menjadi sesuatu kegiatan spiritual cukup sakral.

"Kenapa tiap malam satu Suro kebanyakan orang Jawa atau para kolektor pusaka selalu 'ngumbah gaman/kersi' miliknya? Karena seperti yang saya jelaskan, bahwa 1 Muharram adalah malam penuh keramat, malam penuh dengan kekuatan magis. Karena pusaka-pusaka itu juga dikeramatkan, makanya perlu dirituali di malam 1 Suro, agar kekuatan gaibnya bertambah," kata Sugiman, seorang kolektor pusaka asal Sidoarjo. (wartainfo.com)

2. Tradisi Kirab kerbau bule di Keraton Surakarta

Foto gambar Kirab Kerbau Bule Surakarta tradisi ritual malam satu suro 1 muharram

Kirab Kebo Bule ini merupakan ritual Keraton Kasunanan Surakarta. Kirab ini Kebo Bule ini juga digelar saban malam satu Suro, di mana sekawanan kerbau (kebo) yang dipercaya keramat, yaitu Kebo Bule Kiai Slamet. Konon kerbau ini bukan sembarang kerbau.

Dalam buku Babad Solo karya Raden Mas (RM) Said, leluhur kebo bule adalah hewan klangenan atau kesayangan Paku Buwono II. Maka dari itu, kebo bule ini dianggap sebagai pusaka keraton. Adapun kirab itu sendiri berlangsung tengah malam, tergantung 'kemauan' dari kebo Kyai Slamet.

Uniknya, dalam kirab ini, orang-orang sekitar Keraton akan berjalan mengikuti kirab. Mereka saling berebut dan berusaha menyentuh tubuh kebo bule. Tak cukup menyentuh, bahkan orang-orang tersebut terus berjalan di belakang kerbau, menunggu sekawanan kebo bule buang kotoran. Bila kotoran jatuh, mereka saling berebut mendapatkannya. Orang-orang itu beranggapan bahwa kotoran tersebut sebagai tradisi ngalap berkah, atau mencari berkah Kiai Slamet.

3. Tradisi Mubeng beteng di Kraton Yogyakarta

Foto gambar Mubeng beteng Kraton Yogyakarta tradisi ritual malam satu suro 1 muharram

Tidak hanya Surakarta, di Yogyakarta juga kerap melakukan ritual yang mewajibkan untuk mengkirab pusaka milik Sultan Hamengkubuwono. Di Istana Sultan Hamengkubuwono, setiap malam Satu Suro digelar acara mengarak benda pusaka mengelilingi benteng keraton yang diikuti oleh ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya.

Selama melakukan ritual mubeng beteng tidak diperkenankan berbicara seperti halnya orang sedang bertapa. Inilah yang dikenal dengan istilah tapa bisu mubeng beteng. (wartainfo.com)

4. Ritual Tirakatan

Foto gambar orang tirakatan tradisi ritual malam satu suro 1 muharram di Jawa

Ritual lain dikenal dengan Tirakatan. Tirakat dari kata 'Thoriqot' atau Jalan, yang dimaknai sebagai usaha mencari jalan agar dekat dengan Allah. Tirakatan ini digelar setiap malam satu Suro oleh kelompok-kelompok penganut aliran kepercayaan Kejawen yang masih banyak dijumpai di pedesaan. Mereka menyambut datangnya tahun baru Jawa dengan tirakatan atau selamatan.

Sepanjang bulan Suro masyarakat Jawa meyakini untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling artinya manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan di mana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan.

5. Ritual Tapa bisu

Foto gambar Tapa Bisu tradisi ritual malam satu suro 1 muharram di Jawa

Ritual lain adalah Tapa Bisu atau mengunci mulut. Sesuai namanya, Ritual ini dilakukan dengan cara diam tanpa mengeluarkan sedikitpun suara ataupun kata-kata selama ritual berjalan. Ritual ini juga bisa dimaknai sebagai upacara untuk mawas diri, berkaca pada diri atas apa yang dilakoninya selama setahun penuh. Selain itu, ini dilakukan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi tahun baru di esok paginya.

Selain untuk introspeksi diri, tradisi Tapa Bisu yang di lakukan di kota Yogyakarta ini dilakukan untuk memohon perlindungan dan keselamatan kepada Allah SWT dengan harapan diberikan yang terbaik untuk Kota Yogyakarta dalam tahun baru Islam. (wartainfo.com)

6. Tradisi Kirab koleksi benda pusaka Keraton Surakarta

Foto gambar Kirab Koleksi Benda Pusaka tradisi ritual malam satu suro 1 muharram di Jawa

Di Keraton Surakarta terdapat sebuah tradisi yang mewajibkan untuk meng-kirab koleksi pusaka yang merupakan peninggalan dari Dinasti Kerajaan Mataram. Kirab pusaka tersebut diperuntukkan khusus menyambut tahun baru dalam penanggalan Jawa yang disebut 'Tahun Sultan Agungan' yang jatuh pada 1 Suro 1948 atau 25 Oktober 2014.

Dalam setiap tahunnya, Keraton Surakarta meng-kirab sejumlah pusaka yang berbeda-beda. Tahun ini sebanyak 11 pusaka dikirab pada malam 1 Suro, Jumat (24/10) malam. Jumlah pusaka yang dikirab tersebut sedikit lebih banyak dibanding kirab tahun sebelumnya yakni 9 pusaka. Namun pusaka apa saja yang akan dikirab, Keraton Surokarta enggan mengungkapkannya. 

7. Tradisi Nonton Pertunjukan wayang kulit semalam suntuk

Foto gambar Wayang Kulit tradisi ritual malam satu suro 1 muharram di Jawa

Tradisi dan warisan budaya Jawa ini tak pernah lepas dari tiap momen penting, khususnya adat di Yogyakarta. Apalagi malam Satu Suro di kawasan pantai selatan dengan segala macam pernak-pernik mistisnya. Dalam memperingati malam Satu Suro, biasanya warga kerap melakukan lek-lekan atau melek semalam suntuk. Dan ritual ini menjadi sebuah media agar warga yang memperingati Malam Satu Suro tidak mengantuk.

Biasanya pada Malam Satu Suro, pertunjukkan wayang kulit akan dijubeli oleh ratusan pengunjung. Para pedagang pun ikut mengambil untung dari adanya pertunjukkan wayang kulit ini, sehingga Malam Satu Suro menjadi sebuah ritual yang bisa mendatangkan rezeki tersendiri bagi sebagian kalangan seperti pedagang. (wartainfo.com)

ยป Tradisi Unik Perayaan Tahun Baru di Berbagai Negara Dunia 

Category: Misteri Mistis Mitos, Tradisi BudayaTags:
Jayabet