Menguatnya Fenomena El Nino 2015 dan Dampaknya di Indonesia

Kaitan bintik matahari dan flare di permukaan Matahari terhadap kejadian El Nino memang ada. Itu disampaikan Thomas Djamaluddin, pakar astronomi dan astrofisika yang juga Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan). Itu karena Matahari sebagai sumber energi Bumi suhu di permukaannya tergolong sedang dibanding bintang lainnya, yaitu sekitar 6.000 derajat celsius.

Energinya berasal dari reaksi nuklir di intinya yang panasnya sekitar 20 juta derajat celsius, dipancarkan dalam berbagai jenis gelombang: gelombang radio, inframerah (menghangatkan Bumi), cahaya tampak (menyebabkan siang jadi terang), ultraviolet (membakar kulit jika berjemur lama), sinar X dan gamma.

Matahari yang menyimpan energi sangat besar itu terkadang mengalami ledakan besar di permukaannya (flare).  Energi saat ledakan itu setara dengan 10 juta ledakan bom atom.

Fenomena El Nino menyebabkan anomali cuaca di banyak negara, yaitu kekeringan di Indonesia, Australia, Amerika Tengah, dan daerah Laut Karibia. Kondisi sebaliknya terjadi di kepulauan Pasifik tengah, Amerika Serikat bagian selatan, Cile, Argentina, Uruguay, dan Brasil, yang mengalami banyak hujan.

Pengamatan satelit Tiros-N milik Badan Atmosfer dan Kelautan Nasional AS (NOAA) menunjukkan, El Nino meningkatkan suhu troposfer secara global. Pengamatan suhu global oleh satelit ini 1979-1992 mengindikasikan adanya pengaruh aktivitas matahari di samping fenomena El Nino/La Nina (kebalikan dari El Nino). Suhu cenderung meningkat saat aktivitas matahari maksimum atau ada El Nino dan cenderung minimum saat aktivitas matahari minimum atau ada La Nina. Suhu rata-rata musim kering di dua kota di Indonesia yang dianalisis (Padang dan Jakarta) menunjukkan pola perubahan mirip dengan suhu global itu.

Dampak El Nino di Indonesia terlihat gejala nyatanya pada Februari, berupa peningkatan suhu muka laut di timur ekuator Pasifik timur. Dampaknya biasa terjadi Juni-November, yaitu musim kemarau panjang. Berkurangnya hujan dan meningkatnya suhu udara membuat kian parahnya kekeringan di Indonesia saat El Nino.

Wilayah Indonesia yang tak terdampak El Nino hanya Sumatera bagian utara karena dilewati angin monsun dari Australia ke Asia, meski relatif sedikit membawa massa air dari benua gersang ini.

 

Ketersediaan air

Dampak Fenomena El Nino di Indonesia 2015 Kekeringan

Kekurangan hujan telah disampaikan Deputi Bidang Klimatologi BMKG Widada Sulistya medio Mei lalu. Hujan berkategori rendah, yaitu dalam waktu sebulan curah hujan berkisar nol hingga 100 mm.

Sejak awal Mei, beberapa wilayah di Zona Musim telah mengalami kemarau dengan curah hujan di bawah normal, bahkan ada beberapa wilayah yang telah sebulan tak hujan, antara lain Bali dan Nusa Tenggara. Kondisi ini diperkirakan mencapai puncaknya Agustus. "Upaya antisipasi berupa penghematan air perlu dilakukan penduduk," kata Widada.

Pada Juni, sebagian besar Zona Musim di Indonesia sudah memasuki kemarau. Kondisi kurang hujan juga dialami Kalimantan bagian barat, selatan, dan tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua bagian tengah dan selatan, terutama Merauke.

Meski hujan mulai menurun sejak Mei lalu, jelas Evi, ketersediaan air permukaan, yaitu kandungan air di permukaan tanah hingga kedalaman 1 meter, masih tergolong cukup di sebagian besar wilayah ZoM. Kategori cukup artinya kandungan air di atas 60 persen.

Kategori sedang antara 40,1 dan 60 persen, sedangkan kurang sama dengan 40 persen. Jika tingkat ketersediaan air tanah kurang dari nol persen, ini menunjukkan kandungan air wilayah tersebut berada di bawah titik layu permanen. Jika lebih dari 100 persen, hal itu menunjukkan telah terjadi surplus atau jenuh air, ujar Evi.

Ketersediaan air saat ini menunjukkan tingkat yang kurang atau defisit air di wilayah Nusa Tenggara, yaitu berkisar dari 0 hingga 40 persen. Hal ini dipengaruhi oleh pola angin monsun Australia yang kering bertiup ke arah barat laut menuju Benua Asia. "Dalam pola musim normalnya, wilayah yang lebih dulu memasuki kemarau adalah wilayah tenggara," urai Evi.

Melihat kecenderungan kenaikan suhu permukaan laut di Pasifik, NOAA menyatakan El Nino 1997 mirip El Nino 1982. Sementara itu, Edvin melihat, pada pola El Nino tahun 2015, peningkatan indeksnya sama dengan tahun 1997.

El Nino tidak mempunyai periodisitas tetap, tetapi berkisar 2-7 tahun. "Aktivitas matahari pun periodenya sebenarnya tidak konstan, berkisar 9,5-12 tahun dengan rata-rata 11 tahun," lanjut Thomas.  Namun, bukti-bukti empirik menunjukkan frekuensi kejadian El Nino lebih banyak saat aktivitas matahari minimum daripada saat aktivitas matahari maksimum.

Seabad terakhir ada sebelas kejadian El Nino (1877, 1891, 1902, 1913, 1923, 1932, 1953, 1963, 1976, 1986, dan 1997) pada saat aktivitas matahari minimum. Itu hampir dua kali lipat dibanding enam kejadian (1884, 1905, 1918, 1946, 1957, dan 1969) pada saat aktivitas matahari maksimum. Apakah itu kebetulan? Para peneliti belum bisa menjawab dengan pasti.

Prediksi kejadian El Nino memasukkan model hubungan laut-atmosfer dan mengamati beberapa parameter terkait: tekanan di permukaan laut, angin permukaan, suhu permukaan laut, suhu udara permukaan, dan fraksi liputan awan.

Ada beberapa mata rantai yang dapat menjadi penghubung dalam menyusun suatu mekanisme fisis kejadian El Nino, yang mungkin akan melibatkan faktor aktivitas matahari. Suhu udara permukaan telah diketahui berkaitan dengan aktivitas matahari. Variasi aktivitas 11 tahunan tampak pada analisis variasi suhu udara permukaan 20 tahun terakhir ini. Namun, untuk data jangka panjang, variasi suhu udara permukaan lebih tampak jelas dipengaruhi variasi panjangnya siklus aktivitas matahari, 9,5-12 tahun.

Variasi anomali suhu permukaan laut global dengan periode 83 tahun ternyata juga terkait variasi jangka panjang aktivitas matahari yang berperiode 80-90 tahun, yang disebut Siklus Gleissberg. (wartainfo.com)

Category: Berita Peristiwa, Hot NewsTags: