5 Jalan Tempat Lokalisasi Prostitusi Paling Terkenal di Indonesia yang Melegenda

2. Jalan Pasar Kembang (Sarkem) Yogyakarta

Foto Hot Wanita Cewek PSK Cantik Seksi Pasar Kembang Sarkem di Jogja

Pasar Kembang merupakan nama jalan di Yogyakarta. Jalan Pasar Kembang, atau lebih terkenal disebut Sarkem. Jalan itu dikenal sebagai lokasi prostitusi di Kota Yogyakarta. Secara administratif wilayah ini merupakan bagian dari Kecamatan Gedong Tengen, tepatnya berada di RW Sosrowijayan Kulon.

Warga setempat juga kerap menyebut Sarkem dengan nama Gang 3. Alasanya wilayah Sarkem adalah gang ketiga dari arah Timur Jalan Pasar kembang. Konon, Sarkem sebagai lokasi prostitusi disebut-sebut telah ada sejak sekitar 125 tahun silam. Sebab itu lokasi ini memiliki nilai historis yang memperkaya sejarah Kota Yogyakarta.

Sesuai cerita tutur masyarakat setempat, Sarkem telah ada sejak 1818, hal tersebut berarti kegiatan prostitusi ini telah ada sejak Zaman Belanda. Ketika itu sedang berlangsung proyek pembangunan rel kereta api yang menghubungkan Yogyakarta dengan kota-kota lainnya.

Pemerintah Belanda berharap gaji para pekerja proyek kembali menjadi pemasukan Pemerintah belanda, maka di bangunlah Pasar kembang sebagai sarana prostitusi, agar pekerja menjajakan uang di sana. Semakin lama lokasi tersebut seakan dipetakan menjadi kawasan prostitusi di Yogyakarta.

Apalagi lokasi Sarkem berdekatan dengan kawasan wisata Malioboro yang menjadi daya tarik wisata di Yogyakarta. Hal itu memungkinkan nama Sarkem sebagai lokasi prostitusi semakin dikenal masyarakat luas. (wartainfo.com)

3. Jalan Kramat Tunggak, Jakarta Utara

Foto Lokalisasi Kramat Tunggak Jakarta Jaman Tempo Dulu

Praktik pelacuran di Jakarta diperkirakan sudah ada sejak VOC menguasai Batavia abad ke 17. Awalnya masyarakat Betawi menyebut pelacur dengan sebutan cabo. Kata ini berasal dari bahasa China Caibo yang kurang lebih berarti wanita malam. Awalnya memang praktik pelacuran banyak dijalankan oleh pendatang dari Tionghoa.

Namun lokasi dan jalan yang dikenal sebagai tempat pelacuran perlahan-lahan mulai dihapus. Misal lokasi pelacuran di Gang Hauber, Petojo, Jakarta Pusat dan lokasi bisnis pelacuran di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Lokasi itu kini bersih dari aktivitas pelacuran.

Bisnis pelacuran baru kembali muncul pada era paska kemerdekaan, yakni zaman pemerintahan Gubernur Ali Sadikin. Para pelacur di Gang Hauber, Glodok, dan daerah lain direlokasi ke kawasan Jalan Kramat Tunggak, Jakarta Utara. Hingga kini, aktifitas pelacuran masih ada di sana meski sembunyi-sembunyi.

Pada periode 1970-1980 an, luas Kramat Tunggak mencapai 12 hektar. Jumlah pelacur mencapai 2.000 orang. Kebanyakan berasal dari wilayah Pantura seperti Subang, Indramayu dan Cirebon. Lokalisasi ini dikenal sebagai tempat prostitusi terbesar di Asia Tenggara.

Tahun 1999, Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso membubarkan Kramat Tunggak. Bang Yos mengubah lokalisasi ini menjadi Islamic Center. Tapi bukan berarti masalah pelacuran selesai. Para wanita malam kembali berkeliaran di jalan-jalan. Sebagian menyaru sebagai pemijat atau pemandu lagu.

Category: Serba - SerbiTags: