Misteri Angker Aokigahara di Jepang, Hutan Bunuh Diri Paling Terkenal

Segala upaya dilakukan untuk menghentikan bunuh diri di Hutan Aokigahara. Salah satunya memasang CCTV dan melacak orang yang akan menuju hutan angker tersebut.

"Terutama di Bulan Maret, akhir tahun fiskal. Lebih banyak orang datang ke Aokigahara karena buruknya kondisi ekonomi," kata pegawai pemerintahan Prefektur Yamanashi, Imasa Watanabe.

Popularitas Hutan Aokigahara kembali mencuat setelah rilis film 'Jyukai Lautan pohon di balik Gunung Fuji' karya sutradara Takimoto Tomoyuki. Film itu bercerita tentang empat orang yang memutuskan mengakhiri hidupnya di Aokigahara. Sutradara Takimoto sesumbar menemukan uang US$ 3.760 di sebuah dompet yang diduga milik orang yang bunuh diri.

Foto Gambar Sejarah Asal Usul Misteri Hutan Aokigahara di Jepang Tempat Bunuh Diri Paling Angker Terkenal di Dunia

Barang-barang milik orang sang pelaku bunuh diri yang terlihat berserakan di hutan Aokigahara.

Pernyataan Takimoto memicu rumor bahwa Aokigahara adalah 'surga' bagi para pemulung yang memunguti harta tertinggal milik korban bunuh diri. Apalagi, beberapa orang mengklaim menemukan kartu kredit, tiket kereta api berlangganan, dan surat izin mengemudi milik si mati.

Pada Maret 2009, kantor berita CNN memberitakan Hutan Aokigahara. Dalam berita tersebut, Aokigahara disebut sebagai tujuan bagi orang-orang yang tertekan dan tidak kuat menanggung realita hidup.

Angka kematian akibat bunuh diri di negara matahari terbit ini memang luar biasa terutama saat kondisi ekonomi mengalami penurunan.

Ada 2.645 kasus bunuh diri tercatat pada bulan Januari 2009, naik 15 persen dari 2.305 pada Januari 2008. Paling banyak adalah kelas pekerja.

Rahasia Angker Hutan Aokigahara Tempat Bunuh Diri Paling Terkenal di Jepang

Gambar Pics Sejarah Asal Mula Misteri Hutan Aokigahara di Jepang Tempat Orang Bunuh Diri Paling Angker Terkenal di Dunia

Kondisi hutan yang lebat, bahkan membuat Aokigahara tampak angker saat siang hari. Dilansir Viralnova, berikut ini adalah rahasia seram yang membuat mengapa Aokigahara begitu ditakuti.

Hutan Iblis

Jika ditarik sejarah dan usianya, hutan Aokigahara tentu menjadi saksi bisu perubahan kehidupan masyarakat Jepang. Bahkan sejak zaman dulu, kisah mitos Jepang sudah menyebutkan bahwa Aokigahara dihuni Yūrei (roh amarah). Memiliki luas 35 kilometer persegi, membuat Aokigaha tampak seperti tempat tinggal para hantu.

Aokigahara memang merupakan hutan yang sangat lebat. Letaknya di kaki gunung Fuji membuat kondisi Aokigahara selalu lembab dan berkabut. Bahkan saat siang hari, sinar matahari seolah-olah sulit menembus Aokigahara. Sungguh tempat yang tepat untuk para iblis kan?

Magnet Untuk Bunuh Diri

Misteri Foto Mayat Tulang Orang Pelaku Bunuh Diri di Hutan Aokigahara di Jepang

Mayat dan tengkorak tulang belulang orang yang bunuh diri di Hutan Aokigahara berserakan di mana-mana.

Namun di era modern saat ini, keindahan hutan Aokigahara justru tertutup dengan julukan seramnya. Yap, status sebagai 'hutan bunuh diri', membuat banyak orang berpikir panjang untuk berkunjung ke Aokigahara. Gunung di sebelah barat laut gunung Fuji ini menjadi lokasi favorit banyak orang bunuh diri.

Tercatat, hampir 100 orang setiap tahunnya memilih menghabisi nyawanya sendiri dalam kelebatan pepohonan Aokigahara yang gelap. Bahkan tradisi bunuh diri sudah ada sejak era keshogunan di Jepang.

Terdapat Jalur Terlarang

Meskipun mempunyai julukan mencekam, masih banyak saja orang yang ingin menikmati keindahan Hutan Aokigahara. Ya, letaknya di kaki gunung Fuji membuat Aokigahara menyimpan berbagai flora-fauna menakjubkan yang membuat para pecinta alam ingin berpetualang ke sana.

Untung itulah dibuat sebuah jalur pertanda bagi para pendaki gunung yang hendak menikmati Aokigahara. Sebuah larangan tegas disebutkan jika siapapun tak boleh melintas lebih dari jalur pendakian umum. Karena siapapun yang penasaran dan malah mencari jalur lain, maka kamu bakal sering melihat benda-benda peninggalan manusia sampai tulang tengkorak mayat bunuh diri.

Kutukan dari Novel?

Foto Gambar Sejarah Asal Usul Misteri Hutan Aokigahara Tempat Orang Bunuh Diri Paling Angker Terkenal di Jepang

Barang-barang milik orang pelaku bunuh diri yang ditinggalkan begitu saja di hutan Aokigahara.

Meski bunuh diri di Aokigahara sudah ada sejak era keshogunan Jepang, dokumentasi resmi baru dimulai tahun 1998. Diperoleh hasil bahwa hampir 100 orang pertahun memilih bunuh diri di Aokigahara. Dan sampai saat ini tak ada yang tahu mengapa Aokigahara seolah jadi magnet bunuh diri di Jepang. Usut punya usut, sebuah spekulasi muncul dari novel Kuroi Jukai yang dirilis tahun 1960.

Novel karya Seichō Matsumoto itu menceritakan mengenai pasangan yang bunuh diri bersama di Aokigahara. Kematian yang dipilih para korban di Aokigahara adalah gantung diri atau overdosis obat. Karena banyaknya orang bunuh diri, dipercaya ribuan arwah penasaran menghuni Aokigahara.

Banyak Mayat Ditemukan

Pada tahun 2005, ditemukan 105 mayat bunuh diri di Hutan Aokigahara. Hasil ini lebih banyak dari tahun 2002 yang 'hanya' 78 mayat. Kini dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Jepang memilih bungkam mengenai jumlah mayat yang ditemukan di Aokigahara.

Namun karena kondisi hutan yang begitu lebat dan bahkan tampak gelap di siang hari, dipercaya masih banyak sekali mayat yang tak ditemukan di Aokigahara. Apalagi ada kisah yang menyebutkan jika banyak keluarga zaman kuno yang memilih meninggalkan anggota keluarga mereka untuk mati perlahan di Aokigahara.

Tanah di Hutan Aokigahara

Sebagai sebuah hutan, Aokigahara memiliki tanah yang mengandung batuan vulkanik sehingga sulit ditembus dengan peralatan ringan. Jika berkunjung ke sana, bukan hal yang aneh kalau menemukan beberapa pita merah sebagai penanda sukarelawan pencari mayat, tas ransel sampai botol sake kosong.

Bahkan para pendaki gunung Fuji yang melintasi Aokigahara harus menggunakan selotip plastik untuk menandai jejak agar tak tersesat. Meski tampak seram, Hutan Aokigahara memiliki obyek wisata Gua Es dan Gua Angin. Jadi, apakah sahabat wartainfo.com berani ke sana?

Category: Misteri Mistis Mitos, Tradisi BudayaTags: