Pleasure Squad, Wanita Pemuas Nafsu Hasrat Seks Petinggi Korea Utara

Mi-hyang mengatakan, mereka membuat catatan detil tentang sekolah dan dan sejarah keluarganya. Lalu, tiba-tiba mereka menanyakan apakah sudah pernah melakukan hubungan seks dengan pria.

"Saya malu ditanyai seperti itu," tuturnya, dikutip Fox News.

Ia sempat menjalani pelatihan selama beberapa bulan di Hong Kong untuk mengasah kemampuan memijat, menyanyi, dan menari secara profesional. Setelah itu, Mi-Hyang resmi melayani Kim Jong-il dan menjadi anggota kelompok wanita penghibur kalangan elit pemerintahan Korut.

Ia tak diperbolehkan bertemu atau berbicara soal itu ke keluarganya dan jika ketahuan kabur, hukuman mati menanti. Perempuan pilihan, kata Mi-hyang, harus memiliki kriteria ketat. Mereka memiliki tinggi 165cm, tak ada bekas luka dan harus mulus. Suara lembut dan kewanitaan. Yang paling penting adalah perawan.

Foto Pleasure Squad Gippeumjo Kim Jong-un North Korea Utara Pasukan Kenikmatan Wanita Gadis Perawan Pemuas Nafsu Seksual Pimpinan Korut

Foto Kim Jong-un, pimpinan Korea Utara dikelilingi oleh para wanita

Mi-Hyang bercerita dirinya pernah digerayangi oleh ayah Kim Jong-un itu, namun tak pernah diminta untuk memuaskan hasrat seksualnya.

Karena saat itu ia masih pelajar berusia belasan tahun, Kim Jong-il hanya menyentuh kepala dan tangannya. Namun, tak pernah memintanya melakukan kegiatan seks. Andai Mi-hyang tak kabur, mungkin Kim Jong-il akan memintanya melayani hubungan seks.

Kesaksian Korban Lainnya

Foto Pleasure Squad Pasukan Wanita Cantik Seksi Pemuas Nafsu Birahi BejatKorea Utara

Beberapa kritik sempat dilontarkan mempertanyakan keaslian kisah Mi-hyang. Tapi ternyata, ia tak sendiri. Banyak perempuan pembelot lain yang berkisah sama.

Tahun 2015 sebuah buku berjudul Dear Leader: Poet, Spy, Escapee – A Look Inside North Korea, ditulis pembelot Jang Jing-sung. Ia menulis, perempuan paling cantik seantro Korut akan dikategorikan sebagai 'Seksi Kelima'.

'Seksi Kelima' adalah kelompok lingkaran paling dekat dengan Kim Jong-un. Menurut Jing-sung, pekerjaan mereka adalah pelayan paling terpercaya yang melayani kehidupan pribadi si pemimpin dari makanan hingga hiburan. Setelah itu, mereka baru masuk ke Pasukan Kenikmatan.

"Setelah diseleksi, para gadis tiap tahunnya diperiksa kesehatannya termasuk keperawanan," tulis Jing-sung.

"Di usia 16 tahun, saat mereka selesai sekolah menengah pertama, kantor cabang Seksi Kelima memilih menyeleksi mereka."

"Mereka yang berhasil lolos akan diberi pelatihan selama 1 tahun dan ditugasi keluar negeri. Pernikahan diatur dengan tentara pilihan atau kader senior agar bisa bekerja di kementerian luar negeri. Beberapa di antara perempuan itu bahkan menjadi kader."

Lee Il-nam, keponakan Kim Jong-ill, juga mendeskripsikan 'Pasukan Kenikmatan' dalam buku yang berjudul, Kim Jong-il’s Royal Family.

Ia mengungkapkan, pesta khusus di kediaman resmi Kim di Pyongyang sangat lazim. Bahkan hingga pukul 3.00 dini hari, bergelimpangan minuman beralkohol, seks dan makanan mewah. Hanya 40 dari 200 orang terdekatnya yang bisa datang ke pesta itu.

"Mereka punya pesta rutin termasuk makan-makan, minum-minum, dansa, dan biasa ditutup dengan permainan erotis yang berakhir di ranjang," tulis Lee.

"Permainan kesukaan adalah yang kalah harus buka baju satu per satu. Tak peduli laki atau perempuan. Kalau mereka sampai mabuk berat, mereka juga main permainan cukur rambut. Kalau laki yang kalah, rambutnya dibotak, kalau perempuan, rambut kemaluannya yang dicukur," lanjutnya.

Nasib Perempuan Pleasure Squad Setelah'Pensiun'

Foto Pleasure Squad Gippeumjo Kim Jong-un North Korea Utara Pasukan Kenikmatan Wanita Gadis Perawan Pemuas Nafsu Birahi Bejat Syahwat Seksual Pimpinan Pejabat Korut

Setelah 10 tahun berdedikasi memberikan 'pelayanannya', biasanya pensiun di usia 22 hingga 25 tahun, perempuan itu pensiun dari perannya. Laporan mengatakan mereka biasanya menikah dengan pasukan elit.

Kendati sudah pensiun, para perempuan itu terus dimonitor agar rahasia peranan mereka tak bocor ke publik Korut.

Hingga akhir tahun 2011, saat Kim Jong-il wafat, pasukan kenikmatan miliknya dibubarkan, dan perempuan-perempuan itu kembali ke orang tua mereka.

Agar tidak bocor tentang 'kelakuan' mereka, pemerintah memberikan uang tutup mulut sebesar US$4.000 atau sekitar Rp 62 juta. Angka itu dua kali lipat dari gaji tahunan masyarakat Korut kebanyakan.

Kalau ada perempuan yang bocorkan rahasia itu, tak segan-segan akan dibunuh. Biasanya, keluarga mereka mengalami nasib yang sama.

'Pleasure Squad' atau Gippeumjo tersebut dibentuk pertama kali oleh ayah Kim, Kim Jong-il, dan sempat dibubarkan oleh Kim Jong-un ketika dirinya memerintah.

Namun, menurut surat kabar Chosun Ilbo, Kim kembali merekrut anggota baru untuk kelompok penghiburnya, sekitar enam bulan ayahnya meninggal dunia. (wartainfo.com)

Category: Dunia, InternasionalTags: