500 Ribu Dokumen Rahasia Pemerintah Turki Dibocorkan Wikileaks Usai Kudeta Militer

Pemerintah Turki Blokir Situs Wikileaks

Gambar Foto Kudeta Militer di Turki 2016 Tentara Pendukung Kudeta Ditangkap dan Dipukuli

Tentara MIliter Turki Pro Kudeta Ditangkap Beramai-ramai

Di Turki, akses terhadap bocoran data Wikileaks diblokir. Karenanya situs ini mengimbau rakyat Turki mengaksesnya lewat uTorrent atau fasilitas berbagi data lainnya yang bisa diproteksi memakai VPN. "Beberapa netizen dari Turki bertanya, kami pro atau anti-AKP? Jawaban kami adalah Wikileaks hanya setia pada kebenaran."

Menyusul kegagalan kudeta militer di Turki, pemerintahan Presiden Reccep Tayyip Erdogan menghabisi satu per satu semua pihak berpotensi melawannya di kemudian hari.

Sejak awal pekan ini pemerintah pusat memecat 15 ribu pegawai dari kemeterian pendidikan, mencakup lebih dari 1.500 dosen serta dekan pelbagai universitas yang dipaksa mengundurkan diri.

Baca juga: Kronologi Lengkap Kudeta Militer di Turki yang Gagal

Seperti dikutip dari the Guardian, Rabu (20/7), 257 pejabat di kantor perdana menteri dan 492 ulama di direktorat urusan agama juga 'dibersihkan'. Sebanyak 8,800 polisi dipecat dan 6 ribu tentara ditahan, belum termasuk 2.700 hakim dan jaksa, puluhan gubernur dan 100 petugas umum lainnya yang ditahan atas tuduhan makar.

Ada pula 20 situs media yang kerap kritis terhadap pemerintah diblokir. Sebanyak 208 orang tewas dan lebih dari 1.400 orang terluka akibat upaya makar yang gagal.

Gambar Foto Jenderal Panglima Angkatan Militer Turki Ditangkap Usai Kudeta Militer Turkey 2016

Penangkapan massal dan besar-besaran para tersangka kudeta militer di Turki (c) 2016 Depo/Tolga Adanali

Pengumuman WikiLeaks ini muncul setelah Turki menghadapi kudeta militer pada Jumat 15 Juli lalu. Kudeta tersebut gagal, namun hingga kini tidak diketahui pasti siapa yang mendalangi aksi tersebut dan apa alasannya.

Presiden Erdogan menyebut kudeta sebagai 'kejahatan berupa pengkhianatan'. Ia menuding seorang ulama Turki yang tinggal di Pennsylvania, Amerika Serikat (AS), Fethullah Gulen sebagai otak di balik kudeta ini.

Sejumlah media menggambarkan, Gulen adalah teman yang berakhir sebagai musuh bagi pemerintahan Erdogan. Awalnya, ia merupakan pendukung sang presiden namun pada 2013 saat keluarga dan para pendukung Erdogan yang duduk di sejumlah instansi terlilit kasus korupsi, Gulen menarik dukungannya.

Erdogan menuding Gulen adalah sosok penyebar fitnah korupsi tersebut. Ulama berusia 75 tahun itu pun memutuskan kabur ke AS, namun hingga kini Gulen yang menyebarkan ajaran Hizmet (pelayanan terhadap umat manusia) itu tetap dimusuhi Erdogan dan upaya mendeportasinya dari Negeri Paman Sam pun belum membuahkan hasil. (wartainfo.com)

Category: Dunia, InternasionalTags: