Amirullah Adityas Putra, Taruna STIP Jakarta Meninggal Usai Dianiaya Seniornya

klg asli

Kronologi Penganiayaan Foto Amirullah Adityas Putra Taruna STIP Marunda Jakarta yang Tewas Dianiaya Seniornya

Wartainfo.com - Penganiayaan berujung kematian terjadi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta, Marunda, Cilincing, Jakarta Pusat. Peristiwa nahas tersebut terjadi kepada Amirullah Adityas Putra (19 tahun), taruna STIP Tingkat I Angkatan Tahun 2016 Jurusan Nautika. Almarhum meninggal dunia pada Selasa 10 Januari 2017 yang diduga dianiaya oleh seniornya.

Korban yang merupakan warga Jalan Warakas III Gang 16 RT 07/014 Kelurahan Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, dipukul di bagian dada, perut, dan ulu hati‎, hingga tewas oleh senior tingkat II.

Pukul 22.00 WIB, satu dari empat taruna senior STIP memanggil enam juniornya untuk berkumpul setelah mereka selesai latihan drum band.

Para taruna tingkat satu itu pun mengikuti perintah empat seniornya itu. Mereka berkumpul di lantai 2, kamar M-205. Sesampai di lokasi, satu per satu dari 4 senior itu menganiaya juniornya dengan tangan kosong. Saat senior WS melayangkan pukulan terakhirnya kepada Amirullah Adityas Putra, tiba-tiba Amirullah pingsan dan ambruk ke dada seniornya itu.

Panik melihat kejadian itu, para senior langsung membaringkan Amirullah di tempat tidur. Empat senior tersebut lalu menghubungi seniornya di tingkat 4 dan langsung dilanjutkan ke pembina dan piket medis STIP untuk memeriksa kondisi korban.

Kronologi Penganiayaan Foto Amirullah Adityas Taruna STIP Jakarta Marunda yang Meninggal Dunia Karena Dianiaya Seniornya

Amirullah Adityas Putra, Taruna STIP Marunda Jakarta yang tewas diduga menjadikorban penganiayaan seniornya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan, Amir baru mendapatkan penanganan medis sekitar pukul 00.15 hingga 01.45 WIB. Namun, nyawanya tak tertolong lagi. Melihat kondisi Amir tak bernyawa, petugas medis bersama sejumlah saksi lantas melaporkan ke Polsek Cilincing, Jakarta Utara, sekitar pukul 02.00 WIB.

Peristiwa ini kontak menggegerkan publik. Sebab, tewasnya seorang taruna muda di STIP Marunda bukanlah yang pertama. "Kejadian tersebut merupakan insiden yang ketiga kali. Sebelumya terjadi tahun 2012 dan tahun 2013," ujar Humas Polres Jakarta Utara Kompol HM Sungkono, Rabu (11/1/2017).

Berdasarkan hasil autopsi, terdapat luka lebam di beberapa bagian tubuh korban. "Pas difoto sebelum dibawa masuk forensik, ada luka lebam di muka," kata paman korban, Nur Arifin (45), di RS Polri, Kramatjati, Jakarta Timur.

Luka lebam juga ditemukan di dada dan ulu hati Amirullah Adityas Putra. Dia meminta, polisi mengusut tuntas kasus ini. "Diusut tuntas, karena ini bukan kejadian pertama kali terjadi," kata Arifin.

Dia meyayangkan kejadian ini terus terulang. Terlebih, penganiaayaan terjadi di lingkungan kampus yang seharusnya sebagai ruang menuntut ilmu. "Pelaku harus dihukum seberat-beratnya, dan keluarga menyerahkan seluruh prosesnya kepada hukum," kata Arifin.

Tak butuh waktu lama, polisi mengamankan empat terduga pelaku yang merupakan taruna tingkat dua STIP Jakarta. Mereka adalah SM (20), WS (20), IS (22), dan AR (20).

Kepala STIP Capt Weku F Karuntu mengatakan, pihaknya menyerahkan kasus ini seluruhnya ke kepolisian. "Biarkan berproses secara hukum, ranah pidana kami tidak mencampurinya," kata Weku.

Weku menegaskan pihaknya akan segera menggelar sidang untuk pemecatan para taruna yang diduga menganiaya dan menewaskan Amirullah.

"Kami akan melakukan sidang, sementara sambil berjalan simultan proses di kepolisian, sesegera mungkin dipecat," ujar Weku.

Menhub Bela Sungkawa

Foto Gambar Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta Marunda, Kronologi Penganiayaan siswa taruna STIP Jakarta

Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP)

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan bela sungkawa atas meninggalnya Amirulloh Adityas Putra, taruna STIP Tingkat I Angkatan Tahun 2016 Jurusan Nautika itu.

Budi Karya menyesalkan terjadinya tindakan kekerasan di STIP Jakarta hingga menewaskan tarunanya. Kementerian Perhubungan telah berulang kali mengingatkan para pengelola sekolah, untuk melaksanakan standar prosedur atau protap pengawasan. Tujuannya, untuk mencegah terjadinya kekerasan di sekolah-sekolah di bawah pembinaan Kementerian Perhubungan.

"Menhub telah memerintahkan Kepala Badan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Perhubungan, untuk membentuk tim investigasi internal, guna melakukan investigasi mengapa kasus tersebut sampai terjadi lagi," ujar Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Bambang S Ervan dalam keterangan tertulisnya.

Bambang menjelaskan, Kemenhub telah membentuk tim investigasi internal, yang diketuai Sekretaris BPSDM Perhubungan Edward Marpaung.

"Sebagai tindak lanjut dari kejadian tersebut, Kemenhub juga telah mengambil langkah cepat dengan membebastugaskan Ketua STIP, Capten Weku F Karuntu." kata Bambang.

Sebagai pengganti Weku, Menhub menunjuk Pelaksana Tugas Ketua STIP. Keputusan ini diambil, untuk mempermudah pelaksanaan tugas tim investigasi internal yang telah dibentuk.

Kemenhub sendiri akan bertanggung jawab terhadap seluruh proses, mulai dari rumah sakit sampai pemakaman jenazah Amirulloh. Kemenhub juga telah menyerahkan penanganan kasus ini ke kepolisian, untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.

"Menhub Budi menginstruksikan kepada Kepala BPSDMP agar lebih meningkatkan pengawasan dan pembinaan, baik secara edukasi maupun peningkatan moral taruna-taruni sekolah tinggi di bawah pembinaan Kemenhub, untuk mencegah terulangnya kasus ini ke depan," Bambang menegaskan.

Dari Istana Kepresidenan, Menteri Perhubungan Budi Karya mengatakan, kasus ini harus diselesaikan di jalur hukum, mengingat sudah ada korban meninggal. "Berkaitan dengan pelaku, karena ada yang sampai meninggal, kita nilai ini sebagai sesuatu ranah hukum," kata Budi Karya.

Category: Berita Peristiwa, NasionalTags:
Pokerboya

Vimax Asli