Mengenal Istilah ‘Loli’, Lolita, Lolicon dan Ciri-ciri Pedofilia

Pengertian yang salah antara Lolicon dan Pedofilia serta pergeseran maknanya

Gambar Pedofil Lolita Tiny Teen Adalah

Beberapa pendapat negatif terutama dari pihak yang tidak memahami perbedaan antara Lolicon dan Pedofilia menyatakan bahwa keduanya merupakan hal yang sama. Bahkan dinyatakan orang yang menyukai Loli memiliki kepastian akan menuju ke arah pedofilia.

Kritikus budaya Hiroki Azuma mengatakan bahwa sangat sedikit pembaca manga loli yang melakukan kejahatan. Lolicon bukanlah pedofilia. Pengertian dari istilah Lolicon lebih mengarah ke afeksi (rasa suka) terhadap gadis di bawah umur atau gadis yang sudah tidak muda, tetapi memiliki sifat serta penampilan menyerupai gadis muda.

Sementara pedofilia merupakan kelainan kejiwaan dan orientasi seksual seseorang, yang sudah sampai tahap eksploitasi seksual terhadap anak-anak di bawah umur, baik pria maupun wanita.

Berdasarkan sebuah sumber, memang kini lolicon banyak dipakai untuk mengindikasikan ketertarikan dengan perempuan di bawah umur. Hal itu membuat lolicon menjadi identik dengan pedofilia. Tentunya, ada yang perlu diperhatikan dari kecenderungan mengaitkan dua hal ini.

Hingga kini, memang sebenarnya sulit untuk menemukan kriteria yang jelas untuk lolicon sendiri. Ketidakjelasan ini memang terjadi karena sejatinya lolicon adalah sebuah ungkapan slang.

Di sisi lain, pedofilia dikenal sebagai suatu diagnosa medis dalam bidang ilmu kejiwaan. Dan pengertian serta kriteria untuk menentukan pedofilia diatur secara rinci dan ketat dalam bidang ilmu yang dimaksud.

Ciri-ciri pedofilia

Pengertian Pedofilia Photo Lolita Tiny Teen Film Movie Adalah

Melansir dari Grid.Id, pedofilia tidak hanya diidap oleh kaum laki-laki saja. Menurut penelitian di Abuse Watch, tak menutup kemungkinan bahwa perempuan juga punya kecenderungan pedofilia.

Angkanya antara 0,4 hingga 4 persen dan biasanya terjadi pada manusia yang berumur antara 22-23 tahun yang keterampilannya tidak menonjol dan mudah depresi. Maka dari itu, hal inilah yang membuat mereka secara seksual tertarik terhadap anak-anak.

Ada beberapa ciri-ciri lainnya terkait pedofil ini. Seperti, orang dewasa ketika secara seksual tertarik kepada lawan jenisnya, biasanya mereka akan merendahkan nada suaranya, menyiagakan sikap untuk menarik perhatian.

Nah, bagi seorang pedofil, cara seperti itulah yang akan ia tunjukkan saat secara seksual mereka tertarik kepada anak-anak.

Kemudian, pedofil juga pendiam namun memiliki senyuman yang menawan. Biasanya, pedofil tidak banyak bicara dan bergaul dengan orang-porang dewasa.

Saat mereka diajak berkumpul bersama warga sekitar yang seusianya, mereka biasanya akan menolak halus disertai dengan senyuman.

Diagnostics and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV) menjelaskan, pedofilia sebagai fantasi seksual, hasrat impulsif, atau perilaku yang melibatkan aktivitas seksual dengan anak di bawah umur yang berulang setidaknya selama enam bulan.

Kemudian, seseorang bisa dikatakan sebagai pedofil jika ia berusia minimal 16 tahun dan setidaknya lima tahun lebih tua dibandingkan anak di bawah umur yang menjadi korban.

Bagi pedofilia, mereka juga memiliki kecenderungan kompulsif untuk menyiksa anak-anak, suka mengasingkan diri namun agresif. Pedofilia juga sebenarnya juga bisa tampil seperti masyarakat pada umumnya. Namun, mereka juga kerap merasa rendah diri, terisolasi, mengalami disforia internal, dan juga ketidakmatangan emosi.

Pedofilia juga sering mengalami kesulitan berinteraksi dengan orang dewasa lainnya dan juga punya kecenderungan punya gangguang kerpibadian seperti antisosial, borderline, narsistik, dan juga ketergantungan.

Tak hanya itu, bebera penelitian tentang pedofilia sebelumnya menemukan, penderita pedofilia cenderung memiliki IQ 10-15 poin lebih rendah dibanding rata-rata.

Category: Gaya Hidup, Mom and ChildTags: