4 Fakta Kasus Pria Diduga Maling Yang Dibakar Hidup-Hidup di Bekasi

 M Alzahra Joya Pria Diduga Pencuri Ampli Maling Dibakar Hidup Hidup di Bekasi

Wartainfo.com - Muhammad Al Zahra alias Joya (30) tewas secara mengenaskan setelah dihakimi massa lalu dibakar hidup-hidup di Kampung Muara Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, pada Selasa (1/8/2017) lalu.

Pria yang kerap disapa Joya itu dituduh mencuri amplifier atau alat pengatur suara di Musala Al-Hidayah Babelan, Bekasi, Jawa Barat pada Selasa petang, 1 Agustus 2017.

Setelah diteriaki maling usai menunaikan salat ashar, dia dikepung massa dan menemui ajalnya. Berikut beberapa fakta terbaru dari kasus Joya pria diduga maling ampli yang dibakar hidup-hidup di Bekasi:

1. Parit Tempat Kejadian Perkara (TKP)

Tewasnya M Alzahra atau Joya di Pasar Muara Bakti, Desa Muara Bakti, Kecamatan Babelan, secara tragis membuat warga pasar cenderung memilih diam. Para pedagang yang disambangi mengaku tidak mengetahui banyak soal kejadian tersebut.

"Enggak tahu, Mas. Saya mah cuma jagain barang aja," kata para pemilik toko sepatu yang dekat dengan tempat terbakarnya Joya, Senin, 7 Agustus 2017.

Foto TKP Tempat Kejadian Saat Pria Diduga Maling Dibakar Hidup-Hidup di Bekasi

Lokasi parit di Pasar Muara Bakti, Babelan, Bekasi yang menjadi tempat massa membakar hidup-hidup Muhammad Al Zahra Joya yang dituduh sebagai pencuri ampli Musala

Hal yang sama juga diutarakan pegawai Toko Hasil Tani Furniture. Saat kejadian, aktivitas di toko tersebut sudah berakhir. "Yah, enggak tahu, tahunya maling aja. Pas kejadian kita udah tutup," kata pegawai toko tersebut.

Akan tetapi, dia membenarkan bahwa lokasi kejadian pria yang tewas dengan cara diamuk dan dibakar tersebut persis di depan tokonya. "Itu di parit itu. Itu rusak udah lama gara-gara proyek saluran. Ini mau kita benerin sendiri aja biar rapi," ujar dia.

Para tukang ojek yang biasa mangkal di sekitar lokasi juga kompak memilih diam. Mereka hanya mengetahui jika mayat Joya dievakuasi pihak kepolisian sekitar pukul 18.00 WIB atau dua jam lamanya saat awal kejadian.

"Kan, pas kejadian orang-orang dari mana aja banyak. Saya tahunya itu diangkat ama polisi pas abis Magrib," ucap seorang pengendara ojek.

2. Pengakuan Saksi Kunci

Tragedi amplifier berdarah itu bermula dari kejadian di Musala Al Hidayah, tempat Joya menunaikan salat Ashar. Tempat salat yang berada di Pondok Cabang Empat, RT 2/1, Babelan, Kabupaten Bekasi, itu posisinya terletak di pinggir jalan.

Musala yang berdiri di tanah wakaf tersebut berada tepat di halaman rumah Rojali. Pria 41 tahun ini mengaku yang pertama melihat Joya menunaikan salat Ashar.

"Ia masuk tanpa permisi dan langsung membuka pintu Musala. Yang buat curiga, setelah salat, ia tidak menutup pintu kembali," kata Rojali di Bekasi, Senin 7 Agustus 2017.

Kasus Muhammad Al Zahra Joya Pria Pencuri Maling Ampli Yang Dibakar Hidup-Hidup di Bekasi

Tempat lokasi amplifier di Musala Al Hidayah, Bekasi.

Saat menunaikan salat Ashar, Joya memarkirkan motornya di halaman rumahnya. Rojali pun tidak mengetahui secara pasti dari arah mana korban datang ke Musala.

Musala berwarna biru itu hanya dilintasi satu jalan saja. Sebelah kanannya, terdapat jalan yang mengarah ke sebuah kampung bernama Desa Pondok. Desa itu adalah pemukiman warga paling pojok, sebelum mendapati pangkalan minyak milik PT Pertamina dan laut.

Sedangkan, sebelah kiri Musala jalan yang sama menuju tempat Joya diamuk dan dibakar warga di Pasar Muara Bakti. Jalan itu merupakan jalan yang pasti dilewati Joya ketika hendak pulang ke rumahnya di Cikarang Utara.

Rojali mengaku, informasi hilangnya amplifier didapat dari Haji Zainul, yang juga kakak dari istrinya, Sumiyati. Zainul saat itu datang untuk berbenah jelang acara peringatan haul orangtuanya.

"Dia bilang ampli enggak ada, saya bilang padahal masih ada saya pakai azan Ashar. Saya jalan kemudian masuk ke musala, betul ampli udah enggak ada. Saya lihat kok kabelnya juga putus," ujar dia.

Rojali menuturkan, amplifier itu terletak di sebuah ruang kecil Musala, tepatnya di samping kiri tempat imam memimpin salat berjemaah. Di ruangan 1x1 meter itu, terdapat barang-barang lainnya yang cukup berdebu. Ada dua amplifier bekas berwarna hitam dan sebuah lemari yang di atasnya terdapat sajadah atau karpet.

Di atas sajadah itulah, lanjut Rojali, seharusnya amplifier itu ada. Alat tersebut biasa digunakan untuk mengeraskan suara Adzan dari musala Al-Hidayah.

Mengetahui amplifier raib, sontak Rojali langsung menyalakan sepeda motornya. Dia berusaha mengejar pria asing yang diketahui keluar musala sekitar 10 menit yang lalu.

"Saya dari tadi emang udah curiga sama dia," ungkap Rojali.

Dalam pencarian itu, Rojali juga diketahui sempat memanggil beberapa pemuda yang kebetulan lewat untuk bersama-sama memburu si pelaku. Akhirnya ia menemukan Joya di dekat Jembatan Pasar Muara atau berjarak 4,1 kilometer dari Musala Al-Hidayah, tempat hilangnya amplifier tersebut.

Seorang warga mengatakan, saat itu ada tiga pria yang berteriak maling ke arah Joya. Mendengar teriakan itu mengarah kepada dirinya, pria yang menaiki motor bebek tersebut langsung melompat ke kali yang dangkal dan pekat lumpur serta bersampah.

Di bawah jembatan yang menghubungkan Desa Muara dan Desa Sukatenang tersebut, Joya tak bisa berbuat banyak. Di atas jembatan, banyak pemuda yang tengah meminta sumbangan untuk acara Kemerdekaan. Dan juga dekat pangkalan ojek dan pertigaan pasar.

"Enggak tahu jelasnya, tapi udah rame orang teriak maling. Itu ketangkepnya pas di deket jembatan," ucap Ijal, warga setempat.

Dari lokasi ini, Joya kemudian ditarik massa ke arah Pasar. Tempat yang berdiri deretan ruko. Di tempat ini, Joya meregang nyawa secara mengenaskan. Warga menganiaya dan membakarnya hidup-hidup, tepat di depan toko Hasil Tani Furniture.

Category: Nasional, NewsTags:
RGO Casino