Film Pemberontakan G 30 S PKI Tahun 1965, Antara Sejarah Fakta dan Rekayasa

Majalah Total Film Indonesia edisi Agustus 2010 mengibaratkan apa yang dilakukan Arifin persis yang dilakukan Leni Riefenstahl saat membuat film dokumenter Nazi tahun 1934, Triumph of Will. Sebagai karya sinema hasil kerja Riefenstahl fenomenal. Tapi tetap saja yang dihasilkannya bukan karya yang jujur, melainkan sebuah propaganda.

Arifin mengatakan `Pengkhianatan G30S` diniatkan sebagai film pendidikan dan renungan tanpa "menawarkan kebencian." Tapi apa daya, di tangan rezim niat baiknya tak kesampaian. Dengan disodori cerita yang sudah jadi versi Nugroho dan pengawasan ketat pemerintah, yang dilakukannya semata tinggal bagaimana filmnya jadi tontonan yang enak diikuti.

Sejak awal, film ini sudah menawarkan kebencian. Film dibuka dengan aksi-aksi PKI di sejumlah tempat di Indonesia. Yang diberi visualisasi bagian saat anggota PKI menyerang sebuah masjid di waktu salat subuh. Kita diperlihatkan Al-Quran dirusak pakai celurit serta seorang imam masjid ditendang dan diinjak. Gambar sempat berhenti di bagian celurit merusak Al-Quran dan sang imam masjid diinjak, seakan hendak menekankan PKI anti agama dan dengan demikian adalah musuh bagi orang-orang beragama.

Kemudian, film ini tentu berisi kebohongan rezim atas peristiwa itu. Film ini jelas menuding PKI sebagai dalang dan pihak yang paling bertanggungjawab atas penculikan para jenderal tanggal 30 September itu.

Yang dimaksud PKI di film ini adalah lembaga, bukan lagi individu-individunya. Artinya, G-30-S adalah kebijakan partai, bukan kerjaan Aidit, Syam, atau Letkol Untung. Ini bisa dilihat dari adegan rapat para pemimpin PKI yang dipimpin Aidit (diperankan Syubah Asa). Dengan menyalahkan PKI sebagai lembaga berarti setiap pimpinan, anggota, dan simpatisan PKI ikut bersalah atas kejadian tahun 1965 itu.

Dari situ kemudian film ini meminta legitimasi penontonnya bahwa pembunuhan terhadap sekitar setengah juta warga negara yang dituding PKI dari akhir 1965 sampai pertengahan 1966 dibenarkan.

Pengkhianatan G30S menggambarkan tokoh-tokoh PKI mengutip istilah Katherine E. McGregor—persis gangster. Para petinggi PKI perancang G30S digambarkan melakukan rapat-rapat rahasia dalam ruang yang remang, penuh asap rokok. Soal rokok ini, kabarnya melenceng dari fakta. Sebab, menurut adik Aidit, Murad, kakaknya tak merokok.

Di majalah Tempo edisi 7 Oktober 2007, Jajang C. Noer, istri Arifin, mengatakan merokok sebagai representasi The Thinker alias pemikir. "Secara visual terlihat lebih bagus penggambaran seseorang yang berpikir keras lewat rokoknya," kata Jajang pada Tempo.

Di lain pihak, para serdadu TNI pimpinan Soeharto digambarkan kebalikan dari para tokoh PKI. Mereka digambarkan bak jagoan yang ksatria. Setiap tindakannya terukur dan hasil pemikiran matang. Tidak ada keraguan dalam tindakan TNI pimpinan Soeharto saat menggebuk PKI. Makanya, dengan mudah kita bisa langsung mengidentifikasi siapa jagoan dan penjahat di film ini.

Film Propaganda Kebohongan Rezim Orde Baru

Download Foto Pembantaian Jendral TNI dalam G30S PKI di Lubang Buaya Pada Tahun 1965

Foto: Diorama adegan pembantaian para jenderal dalam pemberontakan PKI pada tahun 1965

Yang paling diingat juga dari Pengkhianatan G30S tentu adegan-adegan penyiksaan PKI pada para jenderal yang mereka culik malam itu. Bagian penyiksaan itu jadi horor utama film ini. Tentu, buat rezim hal itu untuk menunjukkan kekejian PKI. Jadi, adegan begitu tak usah disensor, malah harus di-close-up. Anda tentu masih ingat ada seorang Gerwani mengambil silet lalu menyilet wajah seorang jenderal.

"Penderitaan itu pedih jenderal… sekarang coba rasakan sayatan silet ini. Juga pedih." Kemudian wajah sang jenderal disilet.

Kekerasan di film ini tampil tanpa estetisasi alias dibuat indah. Arifin memilih pendekatan realis dan mendramatisasinya dengan close-up hingga yang terlihat adalah pertunjukkan penyiksaan yang detil.

Efeknya jitu. Penonton ngeri melihatnya. Dan, terutama, dalam pikiran khalayak terbit anggapan PKI tukang siksa orang dan tak berperikemanusiaan. Niatan rezim mencitrakan orang-orang PKI biadab telah berhasil.

Sampai di sini, muncul tanya bagaimana sebaiknya memaknai Pengkhianatan G30S kini?

Sebagai karya sinema, film ini berhasil menyuguhkan tontonan yang baik, enak diikuti, serta mampu mengaduk emosi penonton. Sekali lagi, menyajikan tontonan 4 jam tanpa membuat bosan adalah hasil kerja yang mengagumkan dari Arifin.

Sayang memang, Pengkhianatan G30S atau Pengkhianatan G30S/PKI atau Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI yang sesungguhnya karya monumental yang baik sebagai karya sinema, adalah film propaganda yang isinya kebohongan rezim Orde Baru.

Category: Film Movie, NasionalTags: