Bolehkah Mahar Pernikahan Seperangkat Alat Sholat dan Alquran Saja?

ijab kabul Pernikahan akad nikah animasi

Wartainfo.com - Dikutip dari Wikipedia Mahar atau mas kawin adalah harta yang diberikan oleh pihak mempelai laki-laki (atau keluarganya) kepada mempelai perempuan (atau keluarga dari mempelai perempuan) pada saat pernikahan.

Mahar merupakan salah satu syarat sahnya pernikahan. Mahar adalah bukti kerelaan seorang pria memberikan sebagian hartanya kepada wanita yang akan dijadikan istri. Sebagai, bentuk pengorbanan sebelum nantinya akan memberi nafkah secara rutin.

Dalam surat An-Nisa ayat 4, Allah SWT berfirman,

"Berikahlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan." (QS. An-Nisa : 4)

Mahar adalah hak istri yang boleh ia gunakan sendiri. Wanita diperbolehkan meminta mahar apa saja kepada calon suaminya sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Terpenting mahar itu berharga dan dapat digunakan sebaik-baiknya. Seperti uang, emas, tanah, rumah, kendaraan, perusahaan, atau pakaian dan boleh juga berupa tenaga dan keperluan beribadah.

Baca juga:

Membahas soal mahar pernikahan, salah satu jenis mahar yang biasanya wajib ada di setiap pernikahan muslim di Indonesia adalah seperangkat alat salat, termasuk Alquran dan tasbih. Entah itu hanya seperangkat alat salat saja atau digabungkan dengan mahar lain, seperti uang atau emas.

Namun, bolehkah memberi mahar hanya seperangkat alat salat dan Alquran saja? Dan, benarkah kedua mahar itu membuat tanggung jawab suami menjadi berat?

Foto Gambar Mas Kawin mahar pernikahan seperangkat alat sholat dan Al quran

Mahar pernikahan seperangkat alat sholat dan Al-Quran

Wakil Kepala Lembaga Diklat Kader Pesantren Tebuireng, Ahmad Syahri Sholehan Arif Khuzaeni mengatakan, sebenarnya mahar itu boleh apa saja yang penting bermafaat dan bisa dihargai dengan mominal.

"Imam Nawawi pernah menyampaikan, segala sesuatu yang bisa diperjualbelikan berarti sah dijadikan mahar. Maka kalau dilihat dari segi materi, peralatan salat seperti mukena, sajadah, beserta Alquran bisa dipejual-belikan, bisa diuangkan, maka boleh-boleh saja dijadikan mahar," jelas Ahmad Syahri Sholehan Arif.

Kemudian, perkara apakah dengan memberi seperangkat alat salat dan Alquran maka tanggung jawab suami menjadi berat, Arif mengungkapkan pendapatnya.

"Menurut saya sebagai seorang suami, tanpa memberi mahar alat salat atau Alquran, dia tetap berkewajiban membimbing istrinya sesuai tuntunan Alquran dan selalu menginatkan salat. Alquran dan alat salat itu hanya simbol saja," ungkapnya

Ia menjelaskan, terlepas mahar itu dipergunakan atau tidak itu sepenuhnya hak istri. Uang Rp100 juta yang dijadikan mahar sekalipun bila tidak dipakai istri itu hak dia.

"Sebagai tambahan, bila uang mahar akan dipinjam suami itu pun tergantung keputusan istri. Dia boleh meminjamkan atau tidak, bebas. Terpenting suami mengembalikan," tukasnya.

Sementara itu, Rasulullah SAW sendiri pernah memberi contoh ketika memberikan mahar pernikahan kepada Aisyah RA. Abu Salamah menceritakan,

“Aku pernah bertanya pada Aisyah RA, ‘Berapa mahar Nabi SAW untuk para istrinya?’ Aisyah menjawab, ‘Mahar beliau SAW untuk istri-istrinya ialah sebanyak 12 uqiyah & satu nasy.’ Kemudian Aisyah bertanya, ‘Tahukah Kamu berapa satu uqiyah itu?’ Aku menjawab, ‘tidak’ Aisyah pun menjawab, ‘empat puluh dirham.’ A’isya’ bertanya, ‘Tahukah kamu berapa 1 nasy itu? Aku menjawab, ‘tidak’. Aisyah kemudian menjawab, “Dua puluh dirham’. (HR. Muslim).

Lihat juga:

Category: Khazanah IslamiTags:
RGO Casino