5 Tradisi Masyarakat Indonesia Sambut Bulan Ramadhan

3. Tradisi Gerebek Apem di Jombang

Tradisi Ramadhan Gerebek Apem Jombang

Warga Kabupaten Jombang, Jawa Timur punya cara unik untuk menyambut bulan suci Ramadhan, yakni Gerebek Apem. Di tradisi ini, warga memperebutkan 21 gunungan kue apem yang dipercaya sebagai simbol permohonan ampun kepada Allah SWT.

Gerebek Apem diawali dengan kirab gunungan dari GOR Merdeka Jombang menuju Ringin Contong di Jalan Gus Dur. Sedikitnya 21 gunungan dari kue apem diarak membelah ribuan warga yang memadati jalan.

Gerebek Apem sebagai tradisi warga Jombang sejak puluhan tahun silam untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Kue apem mempunyai filosofi yang harus selalu menjadi pegangan warga kota santri. Apem dalam bahasa arab adalah afwan, artinya meminta pengampunan dari Allah SWT.

4. Dandangan, Tradisi 450 Tahun Warga Kudus

Tradisi Dandangan di Kudus Indonesia

Lain ladang, lain belalang. Kudus memiliki tradisi bernama Dhandangan. Dhandangan adalah tradisi masyarakat Kudus untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan yang sudah ada sejak lebih dari 450 tahun yang lalu, atau sejak masa Sunan Kudus.

Tradisi ini selalu diisi dengan pasar rakyat, yang memberikan kesempatan pada masyarakat lintas kultural di Kudus untuk berinteraksi sekaligus memperoleh rezeki sebelum puasa.

Tidak ada catatan yang pasti bagaimana tradisi Dhandangan bermula. Namun masyarakat Kudus meyakini nama Dhandangan diambil dari bunyi bedug di masjid menara Kudus.

Menurut cerita leluhur, di masa lalu masyarakat berkumpul di masjid menara Kudus untuk menunggu Kanjeng Sunan Kudus mengumumkan dimulainya bulan puasa. Sebelum pengumuman, biasanya bedug masjid ditabuh dan suaranya 'dhang..dang..dang'. Dari sanalah nama dhandangan diambil.

Melihat keunikan sejarah tersebut, sejak 2008 Pemkab Kudus menjadikan dhandangan sebagai atraksi wisata. Selain itu, Pemkab Kudus juga menggelar pentas kolosal visualisasi perjalanan sejarah tradisi masyarakat Kudus, tepat sehari sebelum puasa.

Pentas kolosal visualisasi yang dihadiri ribuan warga Kudus tersebut juga menggambarkan perjalanan sejarah akulturasi budaya Islam, Jawa, Hindu dan Tiongkok yang mewarnai Kudus.

5. Permainan Bola Api di Cileunyi, Bandung

Tradisi Ramadhan Permainan Bola Api Cileunyi Bandung

Bergeser ke Cileunyi, menyambut Ramadhan, anak-anak Kelurahan Cibiru Hilir, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Permainan bola api dilakukan oleh 10 orang anak-anak yang dibagi ke dalam dua tim.

Secara umum, permainan bola api yang dilakukan anak-anak ini sama seperti permainan sepak bola pada umumnya. Namun yang membedakan, gawang hanya berukuran satu langkah kaki dan tanpa ada penjaga gawang.

Sebelum permainan dimulai, anak-anak berkumpul mengelilingi bola api yang terbuat dari batok kelapa yang telah direndam minyak tanah. Dibimbing salah seorang ustaz, mereka membaca doa sebelum permainan dimulai.

Usai membaca doa, para peserta mulai menempati posisi masing-masing. Bola dilempar panitia ke arena permainan, anak-anak langsung berebut mencari bola.

Meski tanpa alas kaki, anak-anak itu tetap bersemangat berebut bola. Mereka begitu kuat menggiring bola hingga menjebloskan bola ke gawang mini yang terbuat dari pot bunga. Lantunan salawat dengan alat musik rebana mengiringi permainan bola api.

Category: Serba - Serbi, Tradisi BudayaTags: