Orang dengan Sleepwalking Lebih Sering Lakukan Kekerasan Saat Tidur

klg asli

berhasil

http://infolabel.blogspot.com/Fakta Dan Berita - Kebanyakan orang dewasa yang mengalami gangguan tidur sleepwalking (tidur sambil berjalan) menganggap hal tersebut wajar dan tidak membutuhkan penanganan medis. Padahal orang dengan sleepwalking seringkali melakukan tindak kekerasan.

Sleepwalking termasuk parasomnia yang ditandai dengan bangun dan berjalan-jalan sementara Anda sedang tidur nyenyak. Sleepwalking bisa berbahaya dan paling sering terjadi pada anak-anak, tetapi sleepwalking juga dapat bertahan hingga dewasa dan memungkinkan terjadinya tidak kekerasan di luar kesadaran.

Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 58 persen dari orang yang memiliki gangguan tidur sleepwalking dapat melakukan tindak kekerasan, baik itu melukai diri sendiri atau pasangan yang tidur di sampingnya. Bukan hanya itu saja, sleepwalking juga menyebabkan seseorang mengalami sejumlah masalah kesehatan selama jam bangunnya.

"Rasa kantuk yang tidak tertahankan di siang hari adalah masalah yang sering mempengaruhi orang dewasa dengan sleepwalking," kata Dr. Yves Dauvilliers, direktur laboratorium Gui-de-Chauliac Hospital di Montpelier, Prancis.

Selain itu, orang dengan gangguan tidur sleepwalking juga lebih mungkin mengalami depresi, kecemasan dan memiliki kualitas hidup yang rendah.

"Sekitar 17 persen dari kasus sleepwalking menyebabkan cedera, misalnya beberapa pasien melompat keluar dari jendela, berjalan di atap rumah, atau jatuh menuruni tangga dan menyebabkan patah kaki," kata Dauvilliers, seperti dilansir Health24, Senin (11/3/2013).

Dauvilliers mengevaluasi 100 kasus sleepwalking pada pasien yang berobat ke klinik gangguan tidur di rumah sakit. Data pasien yang dievaluasi rata-rata berusia 30 tahun.

Peneliti memasang kamera cctv yang mengamati tidur pasien selama satu malam di laboratorium tidur. Para pasien juga diminta menjawab pertanyaan tentang masalah tidur yang dialaminya, kelelahan, depresi, kecemasan, dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Para pasien juga membeberkan rincian tentang pemicu sleepwalking, seperti stres, emosi yang kuat, minum alkohol atau melakukan aktivitas fisik yang intens di malam hari. Peneliti juga mewawancarai 100 orang sehat yang tidak mengalami sleepwalking dan membandingkan hasilnya.

Usia rata-rata pasien sleepwalking ketika memulai kebiasaan tersebut adalah 9 tahun dan lebih dari separuh pasien melaporkan bahwa dirinya memiliki riwayat keluarga sleepwalking.

Dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki sleepwalking, pasien sleepwalking lebih mungkin mengalami kantuk di siang hari, kelelahan, insomnia, gejala kecemasan dan depresi, dan merasa kualitas hidupnya lebih rendah.

Peneliti mencatat bahwa sekitar 17 persen pasien menyerang pasangan tidurnya tanpa disadari hingga membuat pasangan membutuhkan perawatan medis. Peneliti menyatakan bahwa penemuan ini tidak mengejutkan, dimana sleepwalking yang masih terjadi hingga dewasa dapat meningkatkan kasus cedera dan kekerasan.

Untuk mencegah hal ini, para peneliti memberikan rujukan kepada pasien sleepwalking untuk menjalani pengobatan di klinik tidur. Selain itu, hindarilah pemicunya dan jika kasus tersebut telah parah, Anda mungkin memerlukan obat seperti benzodiazepin, obat yang memiliki efek seperti penenang.

Peneliti juga menyarankan untuk mengurangi stres, menjaga jadwal tidur-bangun yang teratur dan memenuhi waktu tidur yang diperlukan tubuh. Amankan kamar tidur dari benda-benda yang dapat membuat diri Anda terluka atau yang mungkin dapat digunakan untuk melukai mitra tidur Anda.

Category: UncategorizedTags:
Jayabet