Gelombang Panas Mematikan di India Tewaskan Ribuan Orang

klg asli

berhasil

Gelombang panas mematikan di india

Wartainfo.com - Gelombang panas yang menghantam India tidak hanya menewaskan lebih dari 1.500 orang selama sepekan terakhir, tetapi juga merusak infrastruktur. Jalanan di India pun menjadi korban serangan gelombang panas yang menyebabkan aspal meleleh.

Hal ini terlihat pada rusaknya jalan di New Delhi, salah satunya di dekat Rumah Sakit Safdarjung. Aspal yang meleleh menyebabkan jalanan rusak dan zebra cross pun terlihat berantakan.

Kerusakan jalan itu bahkan memicu kemacetan lalu lintas. Namun, belum diketahui kapan pemerintah kota setempat memperbaiki jalanan yang rusak, mengingat belum diketahui kapan serangan panas yang mencapai 50 derajat celsius itu berakhir.

Bagian selatan India menjadi wilayah yang terkena serangan panas paling parah. Adapun negara bagian yang paling menderita akibat serangan panas adalah Andhra Pradesh.

Jatuhnya korban jiwa yang tidak sedikit itu terjadi karena panas terik. Suhu dikabarkan mencapai 47 derajat celsius. Gelombang panas di wilayah selatan India itu telah memasuki hari keenam.

Meski demikian, menurut Dr Gulrez Shah Azhar, peneliti kesehatan masyarakat di Santa Monica, California, kematian terjadi bukan karena gelombang panas itu.

Gelombang panas menjadi sesuatu yang ganas bagi orang yang sebelumnya sudah memiliki gangguan kesehatan, misalnya penderita penyakit jantung atau dehidrasi.

"Ini karena gelombang panas akan melemahkan tubuh. Orang yang sebelumnya punya penyakit cenderung akan semakin lemah hingga berakibat fatal," kata Azhar.

Walau informasi jumlah korban resmi yang dikeluarkan Pemerintah India sudah 1.000 orang, Azhar meyakini bahwa jumlahnya lebih dari itu.

"Ini karena orang yang meninggal akibat gelombang panas tidak selalu disebabkan oleh heatstroke atau ruam panas. Banyak yang meninggal karena serangan jantung, gagal ginjal, dehidrasi, atau kondisi medis lainnya yang diperburuk oleh gelombang panas," paparnya.

Di kota Ahmedabab, India barat, tahun 2010, pemerintah setempat melaporkan adanya 50 korban jiwa akibat gelombang panas selama sepekan. Namun, studi tahun 2010 yang kemudian dilakukan Azhar dan timnya menemukan bahwa 1.344 orang meninggal pada pekan paling panas tersebut, dibandingkan periode udara yang lebih sejuk.

Sekitar dua pertiga dari kematian tersebut terjadi pada wanita. Namun, Azhar belum mengetahui apa penyebabnya.

Selain itu, Azhar menilai, kebanyakan korban tewas tidak terhitung dengan akurat karena Pemerintah India hanya berpegang pada sertifikat penyebab kematian. Padahal, tunawisma dan gelandangan sering kali tidak mendapatkan sertifikat kematian.

Adaptasi dan Gaya Hidup Orang India

Foto cewek wanita india sedang mandi

Cuaca di India hampir selalu panas. Namun, korban meninggal akibat heatstroke tidak selalu ada. Ini karena tubuh bisa menjaga agar suhunya cukup rendah sehingga bisa berfungsi normal.

Di beberapa negara lain yang cuacanya sering panas dengan suhu yang hampir sama dengan India juga tidak mengakibatkan korban meninggal sebanyak itu. Jadi, apa penyebanya?

"Gaya hidup membuat kita lebih rentan pada panas," kata Azhar.

Orang India dahulu hanya tinggal di dalam rumah ketika cuaca sedang terik dan minum yoghurt dingin. Jika harus keluar rumah, mereka akan menutupi kepala dengan kain putih.

Tradisi orang yang tinggal di wilayah gurun, mereka membangun rumah dengan atap yang tinggi, insulasi dan jendela yang akan melindungi dari cahaya matahari. Namun, kini, menurut Azhar, banyak orang yang kehilangan kemampuan dalam hal cara mereka menghadapi gelombang panas.

"Banyak orang yang sekarang tinggal di gubuk bermaterial timah di kota-kota besar yang suhunya beberapa derajat lebih hangat," katanya.

Pasca-gelombang panas yang mematikan pada tahun 2010, Azhar dan timnya bekerja sama dengan pemerintah kota di Ahmedabad untuk membuat langkah pencegahan kematian akibat gelombang panas.

Intervensi sederhana, seperti mengirim pesan di ponsel untuk memperingatkan warga tentang cuaca panas, atau membuka tempat penampungan bagi gelandangan saat cuaca panas, bisa menurunkan angka kematian akibat gelombang panas.

"Pemerintah juga bisa menekan peristiwa jatuhnya korban dengan menghindari pemadaman listrik atau air, yang mati saat cuaca panas," katanya.

Pada Mei dan Juni merupakan bulan-bulan terpanas di India dengan suhu udara sering kali melebihi 40 derajat celsius. Namun, pakar cuaca mengatakan, hari-hari panas dengan suhu mencapai 45 derajat celsius terus bertambah selama 15 tahun terakhir.

Diakibatkan tiupan angin kering dari Iran dan Afganistan, gelombang panas ini diperkirakan akan berakhir pada pekan ini sebelum musim hujan mengguyur wilayah timur dan selatan India. (wartainfo.com)

Category: Berita Peristiwa, Hot NewsTags:

Jayabet