5 Fakta Seputar Tes Keperawanan Prajurit TNI

klg asli

berhasil

Tes Keperawanan TNI Wanita

Tes Keperawanan TNI Wanita - Seorang calon prajurit TNI membutuhkan serangkaian tes untuk lolos menjadi prajurit. Namun dalam tes itu calon prajurit TNI wanita diwajibkan menjalani tes keperawanan.

Kapuspen TNI Mayor Jenderal Fuad Basya mengatakan tes ini dilakukan sejak tahun 1977. Fuad mengatakan setiap anggota militer membutuhkan mental yang sehat karena mereka harus membawa senjata untuk menjaga integritas dan kedaulatan Indonesia.

Sayangnya dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa fakta mencengangkan yang membuat sejumlah masyarakat mengecam tes tersebut. Berikut ini beberapa fakta tentang tes keperawanan calon prajurit TNI wanita, seperti yang dikutip dari merdeka:

 

1. Dokter menggunakan dua jari untuk tes keperawanan.

Peneliti Human Rights Watch, Andreas Harsono mengatakan uji dua jari yang dilakukan terhadap calon prajurit TNI wanita berarti dokter memasukkan jari-jari ke dalam vagina dan anus untuk menentukan apakah selaput daranya masih utuh.

"Pendekatan ilmiah ini mengatakan jika selaput dara berada antara jam 11 dan jam 1, itu berarti disebabkan karena kecelakaan. Tapi jika selaput dara berada di jam 6, berarti dimungkinkan hilang karena tindakan seks," jelas Andreas, seperti dilansir stuff.co.nz.

 

2. Tes keperawanan TNI dilkakukan oleh dokter laki-laki

Human Rights Watch mengeluarkan laporan pada bulan November lalu, terkait wawancara dengan petugas militer wanita yang mengatakan uji penetrasi digital membuat mereka trauma.

Dalam tes tersebut, petugas yang tidak disebutkan namanya itu mengaku ada sejumlah kejanggalan dalam tes tersebut. Tes selaput dara itu dilakukan oleh dokter laki-laki.

"Tahun 2013 saya telah mengikuti tes seleksi akademi militer. Pada saat itu kita diwajibkan mengikuti tes kesehatan. Salah satu di antaranya adalah tes keperawanan. Namun satu hal yang membuat saya terkejut adalah ketika saya baru mengetahui bahwa dokter yang memeriksanya adalah seorang laki-laki," Ujarnya ketika mengikuti tes keperawanan di Akademi Militer Bandung, Jawa Barat, dilansir suff.co.nz.

Dengan adanya tes tersebut, Dia mengaku merasa risih dan tegang. Oleh karena itu, dia berharap tes keperawanan ini akan segera dihapus.

"Makanya saya sangat berharap untuk seleksi tahun sekarang dan ke depannya salah satu tes tersebut harus dicabut. Karena menurut saya hal itu melanggar hak perempuan," imbuhnya.

 

3. Calon istri prajurit TNI juga di tes keperawanannya

Peneliti Human Rights Watch menemukan tes keperawanan juga dijadikan persyaratan bagi tunangan petugas militer. Sebanyak 11 perempuan yang diwawancara oleh Human Rights Watch mengatakan tes itu berlaku bagi semua perempuan yang ingin masuk ke militer atau yang mau menikah dengan petugas militer.

Kapuspen TNI, Mayor Jenderal Fuad Basya membantah pernyataan tersebut. Hal itu menurutnya tidak pernah dilakukan oleh Mabes TNI.

"Tidak, kami tidak melakukan itu. Apa gunanya?" ujarnya.

Organisasi Internasional Non-Pemerintah mengatakan kandidat militer dan tunangan militer yang gagal dalam tes belum tentu dihukum. Tapi semua perempuan mendeskripsikan tes tersebut menyiksa, memalukan, dan menimbulkan trauma.

 

4. Tes keperawanan untuk menguji fisik dan mental

Akademi Militer memberlakukan tes keperawanan bagi para kandidat prajurit TNI wanita. Kapuspen TNI Mayor Jenderal Fuad Basya mengatakan tes keperawanan tersebut ditujukan kepada kandidat perempuan sebagai bagian dari tes kesehatan sebelum tergabung.

Tes ini menggunakan uji dua jari untuk menentukan apakah selaput dara masih utuh. Menurut Fuad, hal ini ditujukan untuk memilih pasukan bersenjata terbaik.

"Hal ini dilakukan untuk mendapatkan orang-orang terbaik secara fisik dan mental," ujar Fuad, seperti dilansir stuff.co.nz.

Lebih lanjut Fuad mengatakan setiap anggota militer membutuhkan mental yang sehat karena mereka harus membawa senjata untuk menjaga integritas dan kedaulatan Indonesia. Sehingga dengan adanya tes ini, bisa meningkatkan kesehatan mental para prajurit.

 

5. Tes keperawanan jadi pertimbangan lolos atau tidak masuk TNI

Kapuspen TNI Mayor Jenderal Fuad Basya mengatakan tes keperawanan ditujukan kepada kandidat perempuan sebagai bagian dari tes kesehatan sebelum tergabung. Tes ini menggunakan uji dua jari untuk menentukan apakah selaput dara masih utuh.

Lebih lanjut, Fuad mengatakan dengan menggunakan metode uji dua jari tersebut, dokter akan mengetahui jika ada kandidat yang sudah kehilangan selaput daranya akibat kecelakaan atau alasan lain. Nantinya, kandidat harus menjelaskan mengapa selaput daranya tidak lagi utuh.

"Jika itu karena kecelakaan kita masih dapat mempertimbangkan, tapi jika itu karena alasan lain, maka kita tidak bisa menerimanya," imbuh Fuad. (wartainfo.com)

Category: MiliterTags:
Jayabet