Menguatnya Fenomena El Nino 2015 dan Dampaknya di Indonesia

klg asli

berhasil

Fenomena dan Dampak El Nino di Indonesia 2015 Adalah Peristiwa Menyebabkan Terjadinya

Wartainfo.com - Fenomena El Nino atau menghangatnya suhu muka laut di Samudra Pasifik mulai menggejala akhir Mei lalu dan cenderung menguat pada bulan ini. Namun, melihat pola dan lokasi ”kolam panas” areal permukaan laut yang menghangat ada kecenderungan versi baru El Nino yang disebut El Nino Modoki.

Hal ini diungkapkan pakar cuaca dari Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (TISDA-BPPT), Fadli Syamsuddin, Jumat (21/8), ”Ada kecenderungan anomali mengarah ke El Nino Modoki. Untuk memastikan, harus melihat kondisi terakhir,” ujarnya, seperti yang dilansir kompas.com.

El Nino yang umumnya ditandai terjadinya anomali suhu muka laut di kawasan khatulistiwa di Samudra Pasifik disebut kolam panas. Hal ini mengakibatkan suplai uap air tinggi di kawasan Peru sehingga mengakibatkan banyak hujan di wilayah itu, sebaliknya kekeringan di wilayah Asia, terutama Indonesia.

Berbeda dengan El Nino, munculnya Modoki, bahasa Jepang, yang berarti ”serupa tapi berbeda”, ditunjukkan oleh adanya ”kolam panas” yang terkonsentrasi hanya di bagian tengah Samudra Pasifik. Bagian timur dan barat Pasifik tetap dingin.

Kondisi ini menyebabkan rendahnya suplai uap air atau terbentuknya awan hujan di Peru dan di timur Indonesia. Sejauh ini dari riset yang dilakukan peneliti Badan Riset Kelautan Jepang (Jamstec), wilayah Indonesia belum banyak diteliti. Fenomena ini juga baru dipublikasikan pada 2004 oleh peneliti Jamstec, tutur Fadli, yang meraih doktornya di Jepang.

Riset El Nino Modoki juga dilakukan peneliti dari Georgia Institute of Technology. ”Umumnya, El Nino menyebabkan menurunnya kejadian badai di Atlantik. Namun, tipe baru ini justru meningkatkan badai,” ujar Peter Webster, guru besar di Georgia Tech’s School of Earth and Atmospheric Sciences.

Menurut penelitian Webster yang muncul pada Jurnal Science edisi Juli lalu, El Nino Modoki lebih mudah diprediksi dibandingkan dengan El Nino. El Nino berubah menjadi Modoki oleh osilasi alami El Nino atau merupakan respons El Nino terhadap menghangatnya atmosfer atau karena La Nina mengubah struktur El Nino.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi kekuatan El Nino yang saat ini moderat bakal berubah status menjadi kuat pada Agustus 2015. Itu didukung analisis lembaga meteorologi di sejumlah negara maju. Sejumlah tanda menunjukkan, El Nino tahun ini berpeluang lebih kuat dibanding tahun 1997, yang disebut-sebut El Nino paling kuat.

Foto Tabel Picture Grafik Penguatan Fenomena El Nino 2015

Pihak BMKG memprediksi nilai indeks ENSO (El Nino Southern Oscillation) pada Agustus menjadi 2,20 derajat celsius dan tetap kuat hingga Desember. Semakin tinggi nilai indeks, tingkat keparahan El Nino kian kuat.

"Meski lebih kuat, kita bisa mencegah dampak separah tahun 1997 terulang, asalkan semua sektor bergerak cepat mengantisipasi dan memitigasi," ujar Kepala BMKG Andi Eka Sakya saat jumpa media "Kekeringan dan El Nino 2015" di Jakarta, Kamis (30/7/2015).

El Nino adalah gejala penyimpangan berupa peningkatan suhu muka laut secara signifikan di Samudra Pasifik sekitar ekuator, khususnya bagian tengah dan timur. El Nino dikatakan kuat saat nilai indeks ENSO sudah lebih dari 2 derajat celsius, yang menunjukkan suhu muka laut di Samudra Pasifik berselisih 2 derajat celsius dibandingkan dengan suhu rata-rata normalnya.

Seiring dengan kenaikan status kekuatan, jumlah uap air yang tersedot ke Pasifik tengah dan timur kian besar sehingga potensi kekeringan lebih tinggi dibandingkan jika El Nino tetap moderat. Salah satu dampaknya, awal musim hujan di sebagian besar Indonesia bisa mundur ke November atau Desember.

Wilayah-wilayah di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur pun terpantau tidak menerima hujan lebih dari 60 hari atau masuk kekeringan ekstrem. Pada sisi lain, BMKG memperkirakan ketersediaan air tanah di sejumlah wilayah selatan ekuator akan defisit parah pada Agustus dan September, antara lain Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

 

Bintik Matahari

Foto Pics Grafik BMKG Trend Menguatnya El Nino 2015 di Indonesia

Kemunculan El Nino kuat tahun ini, menurut Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG Edvin Aldrian, telah diprediksi tahun 2012 ketika terjadi puncak kejadian bintik matahari. Dari data historis periode El Nino kuat sejak 65 tahun lalu, fenomena itu muncul 2-3 tahun setelah terjadi bintik matahari. "Jeda waktu terjadi karena proses akumulasi penyerapan energi dari matahari oleh samudra, sebelum akhirnya dilepas dalam bentuk penghangatan suhu muka laut," jelas Edvin.

Category: Berita Peristiwa, Hot NewsTags:
Jayabet