Menelusuri Jejak Sejarah Mahapatih Gajah Mada di 5 Tempat ini

klg asli

berhasil

Menelusuri Peninggalan Jejak Mahapatih Gajah Mada Majapahit Asli Patung Arca

Jejak Peninggalan Patih Gajah Mada - Mahapatih Gajah Mada merupakan salah satu tokoh terbesar dalam sejarah nusantara. Namanya bahkan lebih populer dibandingkan raja-raja Majapahit yang menjadi junjungannya seperti Hayam Wuruk dan Tribhuwana Tunggadewi.

Nama besar Gajah Mada sebagai mahapatih Kerajaan Majapahit membuatnya dikenang di seluruh penjuru nusantara. Maka jangan heran jika di banyak tempat di Indonesia terdapat dongeng tentang kelahiran patih yang terkenal dengan sumpah palapanya itu. Dongeng-dongeng tersebut tersebar dengan mudah karena belum adanya sejarah yang pasti tentang kelahiran sang patih.

Beberapa tempat di pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, bahkan Nusa Tenggara memiliki dongeng yang berbeda-beda. Ada yang menceritakan Gajah Mada sebenarnya putra kerajaan, ada juga yang berpendapat ia lahir dari orang tua biasa, bahkan versi lain menganggap Gajah Mada terlahir dari batu.

Di berbagai daerah terdapat banyak tempat yang diyakini memiliki kaitan dengan tokoh pengikrar sumpah Palapa tersebut. Berikut ini beberapa di antaranya jejak peninggalan sejarah Gajah Mada Mahapatih kerajaan Majapahit. (wartainfo.com)

1. Puri Ageng Blahbatuh - Bali

Foto Puri Ageng Blahbatuh Bali Jejak Peninggalan Mahapatih Gajah Mada

Puri Ageng Blahbatuh yang berlokasi di Gianyar, Bali merupakan tempat penemuan topeng-topeng kuno yang diperkirakan berkaitan dengan riwayat Gajah Mada.

Gajah Mada memang melakukan invasi ke Bali sekitar tahun 1343 Masehi. Dalam salah satu prasasti diceritakan pula anak angkat Gajah Mada yang kemudian menikah dengan salah satu putri Bali.

2. Air Terjun Madakaripura - Probolinggo

Foto Air Terjun Madakaripura di Probolinggo Jawa Timur Jejak Patih Gajah Mada

Madakaripura merupakan air terjun tertinggi di Jawa Timur sekaligus tempat yang diyakini sebagai pertapaan terakhir Gajah Mada. Konon Gajah Mada mencapai moksah di salah satu ceruk air terjun ini.

Tertulis dalam sejarah, tanah Madakaripura memang dianugerahkan Raja Hayam Wuruk atas jasa-jasa sang mahapatih. Namun teori yang dikemukakan oleh juru kunci Madakaripura menyebutkan kalau Gajah Mada juga menghabiskan masa kecil hingga remaja di wilayah tersebut.

Madakaripura memiliki arti peninggalan terakhir Gajah Mada. Ada pula yang mengartikannya sebagai peristirahatan terkahir Gajah Mada. Sebab, ada legenda yang menyebutkan bahwa Gajah Mada moksa (lepas dari ikatan duniawi dan putaran reinkarnasi) di tempat ini. Hanya saja belum ada bukti yang menguatkan argumen tersebut.

Hingga kini masih banyak orang yang datang ke air terjun ini untuk bermeditasi atau melakukan ritual, terutama pada malam Tahun Baru Jawa 1 Suro. Hal itu menjadikan tempat ini dikenal sakral dan historis.

Mitos yang didapat dari Air Terjun Madakaripura adalah Anda disarankan untuk meninggalkan tempat ini sebelum jam 14.00. Sering terjadi hujan pada jam-jam ini yang bisa mempengaruhi ketinggian air di sekitar air terjun yang cukup berbahaya bagi pengunjung. Air terjun Madakaripura ini dijuluki sebagai air terjun tertinggi di Jawa, bahkan air terjun tertinggi kedua di Indonesia setelah air terjun Sigura-gura di dekat Danau Toba, Sumatera Utara.

3. Prasasti Gajah Mada - Malang

Foto Pictures Prasasti Gajah Mada di Malang Jawa Timur

Di Malang terdapat sebuah batu bernilai sejarah tinggi yang dikenal sebagai Prasasti Singhasari atau lebih populer sebagai Prasasti Gajah Mada.

Prasasti ini berisi teks penghormatan terhadap mendiang Raja Kertanegara dari Singhasari oleh Mahapatih Gajah Mada. Mengenai prasasti ini, masyarakat setempat meyakini kalau Gajah Mada sebenarnya adalah cucu Kertanegara dari Raden Wijaya. (wartainfo.com)

4. Setinggil - Lamongan

Foto Setinggil Lamongan Jawa Timur Jejak Peninggalan Mahapatih Gajah Mada

Satu lagi tempat yang diyakini menyimpan jejak Gajah Mada. Letaknya di Dusun Bendo, Kecamatan Modo, Lamongan. Desa ini memang dipercaya sebagai tempat Gajah Mada menghabiskan masa kecil dengan nama Joko Modo.

Konon Setinggil yang berupa gundukan tanah dengan tumpukan batu-batu itu merupakan tempat Gajah Mada menggembalakan kerbau setiap hari. Dari sana pula dia sering mengintip barisan punggawa Majapahit yang membuatnya bercita-cita sebagai prajurit.

5. Makam Dewi Andong Sari - Lamongan

Foto Makam Dewi Andong Sari Jejak Peninggalan Patih Gajah Mada

Di Lamongan juga terdapat situs yang diyakini berkaitan dengan Gajah Mada, yaitu makam Dewi Andong Sari. Makam tunggal di puncak bukit Gunung Ratu, Kecamatan Ngimbang ini dipercaya penduduk setempat sebagai pusara ibu kandung Gajah Mada.

Dewi Andong Sari merupakan salah satu selir raja pertama Majapahit, Raden Wijaya. Ia dibuang dan akan dibunuh karena fitnah yang menyebut ia hamil dari hasil perselingkuhan.

Tak sampai dibunuh, Dewi Andong Sari hanya diasingkan di atas bukit di dalam hutan oleh prajurit kerajaan. Bukit inilah yang sekarang disebut Gunung Ratu.

Tak lama tinggal di sana, Dewi Andong Sari melahirkan seorang bayi laki-laki. Saat ia hendak turun dari bukit, Dewi Andong Sari menitipkan bayinya pada dua hewan peliharaan yang selama ini menemaninya, seekor kucing bernama condromowo dan seekor garangan (musang) putih.

Dalam legenda yang tidak bisa diuji kebenarannya ini, Dewi Andong Sari bunuh diri di Gunung Ratu. Ia merasa bersalah telah membunuh kucing condromowo dan musang putih.

Sebelumnya, dua hewan ini telah melawan seekor ular besar yang hendak memangsa bayi Dewi Andong Sari hingga mulut mereka berlumuran darah. Tapi, Dewi Andong Sari yang baru tiba dari mandi, justru mengira peliharaannya tersebut telah memakan si bayi. Padahal bayi tersebut masih hidup dan tersembunyi di balik dedaunan.

Ki Gede Sidowayah seorang pamong desa saat itu yang menemukan bayi Dewi Andong Sari. Ia juga yang mengubur jasad wanita cantik itu, juga kucing dan musang yang telah mati.

Bayi Dewi Andong Sari oleh Ki Gede Sidowayah dititipkan kepada adik perempuannya, Janda Wara Wuri di Modo. Di sanalah anak Dewi Andong Sari dijuluki Joko Modo (seorang jejaka yang berasal dari Modo). Ketika menginjak dewasa, Joko Modo dibawa Ki Gede Sidowayah ke Malang untukĀ  menjadi seorang prajurit Majapahit dan nantinya menjadi mahapatih dengan nama Gajah Mada. (wartainfo.com)

Category: Serba - Serbi
Jayabet