Putri Gayatri, Siswi SMA Bandung Akan Bicara Pernikahan Dini di PBB

klg asli

berhasil

Putri Gayatri Siswi SMAN 1 Banjaran Bandung Wakil Indonesia di PBB

Wartainfo.com - Perjuangan Putri Gayatri siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri I Banjaran Bandung, dalam memperjuangkan hak pendidikan anak berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas terus berlanjut ke dunia internasional. Putri akan mewakili Indonesia dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa Bangsa ke-70 di New York, Amerika Serikat, pada 25-27 September 2015.

Remaja kelahiran Bandung, 12 Februari 2000, ini mengikuti acara tersebut atas usulan Non-Governmental Organization (NGO) Save The Children. Putri mengenal NGO saat duduk di kelas II sekolah menengah pertama. Ia sering mengikuti acara kampanye NGO.

Putri Gayatri akan jadi bagian dari 20 delegasi dari 19 negara yang tampil di ajang itu. Mereka bersama-sama akan menyampaikan aspirasi dan permasalahan anak-anak yang di sekitar mereka.

Hasil dari pertemuan ini akan dirumuskan menjadi beberapa target dan tujuan yang akan berusaha dicapai dalam kurun waktu 2015-2030. Hal ini merupakan kelanjutan dari program tahun 2000-2015 yang dikenal dengan sebutan Millenium Development Goals (MDGs).

Lalu apa yang akan disampaikan Putri Gayatri di depan sidang umum PBB?

Foto Putri Gayatri Siswi SMA berprestasi Bandung Wakil Indonesia di PBB

Putri Gayatri, Siswi SMAN 1 Banjaran Bandung, Wakil Indonesia di Sidang Umum PBB sedang bersama Bupati Bandung Dadang Naser

Ia akan membawa isu mengenai pernikahan dini. Ia menilai pergaulan bebas yang kerap terjadi belakangan ini, sering berakhir dalam pernikahan di usia muda. Di era globalisasi, media sosial dan media televisi, dinilai Putri merupakan salah satu faktor yang paling berpengaruh. "Kita kan gak bisa menghentikan globalisasi. Jadi ya kita harus punya kesadaran sendiri," kata Putri, seperti dikutip dari tempo.co

Kesadaran ini dapat dibangun dengan adanya pengarahan dari orang tua maupun guru. Putri juga menambahkan bahwa pendidikan mengenai isu ini, merupakan hal yang penting untuk mencegah terjadinya pernikahan dini.

Di lingkungan Putri pernikahan dini masih sering kali terjadi. Ia mengatakan pernikahan dini ini sering kali berakhir dengan dikeluarkannya siswa tersebut. "Menurut saya, mereka seharusnya masih punya hak untuk mendapat pendidikan," ujarnya.

Anak-anak yang melakukan pernikahan dini, menurut Putri tetap tidak boleh putus sekolah. Ia menilai dengan berhenti sekolah akan memperpanjang rantai kemiskinan.

Untuk mengikuti sidang ini, persiapan yang dilakukan Putri adalah dengan mengajak teman-temannya untuk berdiskusi dan menampung aspirasi mengenai masalah di sekitarnya."Insy Allah akan saya sampaikan, permasalahnya ada yang merokok di bawah umur, pergaulan bebas yang berdampak ke pernikahan dini, dan ada juga bullying," ucap Putri.

Saat ditanya apa yang akan dilakukan Putri sekebalinya ke Indonesia, ia menyampaikan keinginannya untuk membuat forum untuk memfasilitasi generasi muda di lingkungannya. "Putri udah buat rencana, kalau pulang dari sana putri mau buat forum di lingkungan putri untuk diskusi soal permasalahan remaja," katanya dengan semangat.

Selain masalah pernikahan dini Anak ketiga dari pasangan Yeni Wahyuni dan Heri Efendi asal Kampung Sepen, Desa Sukasari, Kecamatan Pameungpeuk ini mengatakan akan membahas sejumlah permasalahan di Indonesia terkait dengan perumusan SDGs.

Di antaranya, Putri Gayatri akan menyuarakan kondisi anak penyandang disabilitas dalam mengenyam pendidikan di Indonesia. Semoga sukses ya Putri!

Category: Inspirasi
Jayabet