Hari Pahlawan 10 November! ini 7 Fakta Bung Tomo

klg asli

berhasil

Foto Bung Tomo PidatoBerasal dari Surabaya Merdeka Atau Mati

Fakta tentang Bung Tomo Pahlawan dari Surabaya - 10 November 1945 adalah sejarah penting Indonesia dalam perjuangan melawan penjajah. Peristiwa pertempuran hebat yang terjadi di Surabaya itu kemudian diabadikan menjadi Hari Pahlawan.

Menyebut Hari Pahlawan, memori bangsa teringat dengan aksi heroik Sutomo atau lebih dikenal dengan Bung Tomo dalam pertempuran di Surabaya melawan pasukan Inggris dan NICA-Belanda.

Dalam perang itu, Bung Tomo tampil sebagai orator ulung di depan corong radio. Suara dan pekikan takbirnya membakar semangat rakyat untuk berjuang melawan para penjajah.

Namun di balik aksi heroiknya, sosok Bung Tomo menyimpan kepribadian menarik yang patut diketahui. Apa saja? Berikut 7 fakta menarik tentang Bung Tomo tersebut: (wartainfo.com)

1. Tak Tamat sekolah

Siapa sangka, sosok Bung Tomo ternyata tak tamat sekolah. Hal itu terjadi kala ia berusia 12 tahun.

Bung Tomo yang lahir pada 3 Oktober 1920 di Surabaya, Jawa Timur dibesarkan dalam keluarga kelas menengah. Dia juga keluarga yang sangat menghargai dan menjunjung tinggi pendidikan.

Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo adalah seorang kepala keluarga dari kelas menengah. Ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda.

Bung Tomo mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pendamping dekat Pangeran Diponegoro. Ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura.

Meski berasal dari keluarga menengah, Bung Tomo tidak berpangku tangan. Dia tetap bekerja keras. Kondisi ini membuatnya terpaksa meninggalkan pendidikan di MULO karena harus melakukan pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu.

Belakangan, Bung Tomo dapat menyelesaikan pendidikan HBS-nya lewat korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus.

HBS (Hegere Burger School) merupakan pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa atau elite pribumi dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. Masa studi HBS berlangsung dalam 5 tahun atau setara dengan MULO+AMS (SMP+SMA).

Kala muda, Bung Tomo aktif dalam organisasi kepanduan atau KBI. Bung Tomo menegaskan bahwa filsafat kepanduan, ditambah dengan kesadaran nasionalis yang diperolehnya dari kelompok ini dan dari kakeknya, merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan formalnya.

Pada usia 17 tahun, ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda.

Baca juga: 5 Perang Pertempuran Besar Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia usai Proklamasi

2. Seorang Wartawan

Foto Hitam Putih Pernikahan bung Tomo dan Sulistina Istrinya

Foto Pernikahan bung Tomo dan Sulistina Istrinya

Selain sebagai orator ulung, Bung Tomo juga seorang wartawan yang aktif menulis di beberapa surat kabar dan majalah. Tulisannya kerap menghiasi Harian Soeara Oemoem, Harian berbahasa Jawa Ekspres, Mingguan Pembela Rakyat, Majalah Poestaka Timoer.

Dia juga menjabat sebagai wakil pemimpin redaksi Kantor Berita pendudukan Jepang Domei, dan pemimpin redaksi Kantor Berita Antara di Surabaya.

Category: Berita Peristiwa, Indonesia, Profil TokohTags:
Jayabet