5 Tradisi Paling Unik di Indonesia Saat Gerhana Matahari Total

klg asli

berhasil

Tradisi Unik Saat Gerhana Matahari Total di Indonesia 2016

Mitos dan Tradisi Saat Gerhana Paling Unik di Indonesia - Gerhana Matahari Total 2016 akan melintasi 12 provinsi di Indonesia, seperti Bengkulu, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara.

Saat ini gerhana matahari total dipandang sebagai fenomena alam tertutupnya matahari oleh bulan sehingga hari menjadi gelap. Namun bagi masyarakat Indonesia di zaman dulu, gerhana matahari total ini dianggap peristiwa yang menakutkan sehingga memunculkan mitos dan takhayul.

Mitos dan takhayul itu melahirkan tradisi khas menyambut gerhana di banyak kebudayaan di Indonesia. Uniknya, ternyata ada kemiripan tradisi tersebut mulai dari Jawa, Kalimantan, hingga Maluku Utara. Berikut ini wartainfo.com rangkum mitos dan lima tradisi paling unik di Indonesia saat  gerhana matahari total:

1. Tradisi Gejog lesung di Yogyakarta

Foto Gejog lesung di Yogyakarta Tradisi Unik di Indonesia saat Gerhana Matahari

Gejog lesung adalah tradisi khas masyarakat Yogyakarta saat gerhana. Lima sampai enam orang memukuli lesung (tempat menumbuk padi) dengan alu (kayu penumbuk) sehingga menimbulkan irama.

Dalam mitologi setempat, gerhana terjadi karena matahari dimakan raksasa Kala Rahu atau Kala Rawu mencuri air suci yang bisa memberikan hidup abadi. Namun saat air baru sampai di tenggorokan, lehernya keburu dipenggal oleh Bhatara Wisnu.

Badan Kala jatuh ke bumi, sementara kepalanya masih melayang-layang dan membalas dendam dengan memakan matahari. Lesung padi mewakili tubuh Kala itu sehingga memukulinya dianggap bisa membuat kepala Kala segera memuntahkan matahari.

Baca juga: Mitos Gerhana Matahari Total di Era China Kuno

2. Tradisi Garantung di Kalimantan Tengah

Foto Garantung di Kalimantan Tengah Tradisi Unik di Indonesia Saat Gerhama Matahari Total

Masyarakat di Kalimantan Tengah punya tradisi meramal saat menyambut gerhana matahari. Ada kepercayaan di kalangan masyarakat bahwa gerhana matahari total adalah pertanda akan terjadinya peristiwa besar.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Tengah, Joel Tanggara, menjelaskan, pertanda itu bisa berarti kesejahteraan semakin baik atau sebaliknya akan ada malapetaka. Demi mengetahui kejadian di masa depan itu baik atau buruk, mereka akan berebut minta diramal nasibnya oleh tetua adat. "Tradisi meramal setelah gerhana sudah turun-temurun dari nenek moyang," kata Joel.

Saat gerhana matahari total 9 Maret 2016 nanti, tradisi ini akan jadi daya tarik pariwisata tersendiri di Palangkaraya dan sekitarnya. Joel mengatakan, turis yang ke Kalimantan Tengah biasanya tertarik dengan aktivitas tradisional seperti meramal tersebut. "Jadi akan terus kami lestarikan sebagai bentuk kearifan lokal," ujar Joel.

Selain meramal, ada juga tradisi menabuh garantung, sebutan untuk gong di desa-desa pedalaman Kalimantan Tengah. Tak hanya garantung, semua benda-benda yang bisa menimbulkan suara keras juga akan dipukul.

Menurut kepercayaan setempat, terjadinya gerhana matahari total adalah akibat perkelahian surya dengan bulan. Memukul garantung dan menciptakan kegaduhan dipercaya bisa melerai duel itu.

Category: Serba - Serbi, Tradisi BudayaTags:
Jayabet