Cerita Sejarah Kalijodo dari Masa ke Masa, Lokalisasi Terbesar di Jakarta

Bioskop Cina dan Opera Stambul

Foto Jalan Hayam Wuruk Gajah Mada Jakarta Jaman Tempo Dulu

Jalan Hayam Wuruk dan Gajah Mada Tempo Dulu

Di pusat perbelanjaan ini dahulu terdapat Bioskop Orion yang memutar film-film Mandarin dari Hongkong. Penontonnya kebanyakan warga keturunan Cina.

Di dekatnya di jalan yang sama (Jalan Hayam Wuruk) terdapat tempat hiburan Thalia yang memutar opera-opera Stambul (dari kata Istanbul di Turki).

Di seberangnya ada Jalan Gajah Mada. Di sini terdapat bekas kediaman Mayor Cina, Khouw Kim An, yang dulunya merupakan gedung paling indah di Jakarta Kota. Kini bangunan itu dihimpit gedung bertingkat 30 yang dibangun Modern Group.

Rumah bergaya negeri leluhur ini punya puluhan kamar. Karena, ia memiliki banyak istri dan selir, yang hidup dalam satu gedung. Kebiasaan yang dianggap umum kala itu.

Di dekat stasiun kereta api BEOS, Jakarta Kota, seberang Gereja Portugis (Sion), terdapat jembatan Jassem (kini Jembatan Batu). Pada tempo doeloe masyarakat sering menyaksikan pesta-pesta meriah di sekitar jembatan ini.

Seperti saat pelantikan kapiten Cina ke-12 Lim Bengko pada masa Gubernur Jenderal Van der Parra (1771-1775). Pawai besar diikuti musik, barongsai, nyanyian, dan tarian, yang diikuti ratusan pengarak, dimulai dari jembatan ini keliling Jakarta Kota.

Delapan Pendekar dari Kota

Foto Stasiun Beos Kalijodo Jakarta pada Jaman Tempo Dulu

Stasiun Beos tempo dulu beberapa saat setelah diresmikan.

Masih di kawasan Glodok, terdapat Jalan Jie Lak Keng. Orang menyebutnya Jalan Jelakeng, artinya tempat nomor 26.

Di sini ada perkumpulan silat Pa Te Koan yang artinya delapan pendekar. Ketika terjadi pembantaian orang-orang Cina (1740), banyak suhu (guru) tewas melawan Belanda. Maka, di dekatnya ada Kampung Pa Tie Kei (delapan jenazah).

Ada juga yang mengatakan Pa Te Koan berarti delapan teko. Karena, istri seorang kapiten Cina yang dermawan setiap hari menyediakan delapan teko teh di depan kediamannya untuk mereka yang lewat. Ketika itu daerah ini masih sepi, belum ada yang menjual makanan dan minuman.

Terletak di sebelah kiri Jalan Pangeran Jayakarta, kurang lebih satu kilometer dari Stasion Beos terdapat Jalan Taruna, jalan sempit yang tidak dapat dilalui kendaraan bermotor. Dulu jalan ini bernama Jalan Souw Beng Kong, nama Kapiten Cina pertama yang dimakamkan di sini. Dia diangkat oleh Gubernur Jenderal JP Coen pada 1619 setelah hijrah ke Batavia dari Banten.

Kastil di Pasar Ikan

Foto Kastil Pasar Ikan Kalijodo di Jakarta Pada Zaman Tempo Dulu

Istana Jenderal JP Coen di Pasar Ikan

Kini makam tersebut hanya tinggal batu nisannya. Karena, seluruh bagian makam itu sudah menyatu dengan rumah penduduk.

Sampai pertengahan 1960-an di tiga RT di kawasan ini seluruhnya merupakan tempat pemakaman orang-orang Cina. Ia pernah membangun sebuah wisma mewah di dekat kastil (benteng) di Prinsenstraat (kini Jalan Cengkeh) Pasar Ikan, Jakarta Utara.

Kaum Cina perantauan (hoakiau) pada umumnya bangga menjadi ahli waris kebudayaan leluhurnya.

Mantan PM Singapura Lee Kuan Yew yang dianggap sebagai bapak bangsa Singapura pernah mengemukakan, "Adalah Konfusionisme yang menjalin persatuan dalam keluarga, yang pada gilirannya membesarkan anak cucunya menjadi cendekiawan yang tangguh, tahan banting dalam menghadapi tantangan. Kita adalah contoh hidup dari rakyat Cina, yang berkat ilham dan kebudayaan Cina, maka dapat berprestasi gemilang." (wartainfo.com)

Category: Nasional, Tahukah Kamu?