6 Mitos Tentang Rambut Kemaluan Beserta Faktanya

klg asli

berhasil

Rambut Kemaluan Wanita Bulu Kemaluan Pria

Wartainfo.com - Rambut kemaluan adalah bagian tubuh yang termasuk lapisan pertahanan organ intim. Namun, rambut ini kerap berbau sehingga banyak yang memilih untuk mencukur rutin bulu kemaluan.

Walaupun banyak penelitian yang mengatakan bahwa penghilangan rambut kemaluan itu dianjurkan agar mengurangi tingkat kelembapan yang dikhawatirkan akan menjadi sarang bakteri, penelitian lain menyebutkan bahwa mencukur secara total atau menghilang rambut kemaluan justru akan menambah risiko seseorang terkena penyakit pada bagian kelaminnya.

Ada banyak rumor tentang rambut di bagian bawah sana. Tapi sebaiknya, kita membaca apa kata para ahli untuk memisahkan fakta dari fiksi mengenai rambut kemaluan.

Mitos 1: Rambut kemaluan melindungi kita terhadap penyakit menular seksual (PMS)

Fakta: Justru sebaliknya. Rambut kemaluan bisa menjadi tempat berkembang biak bagi bakteri.

Para peneliti belum mempelajari kuman di rambut kemaluan secara khusus, namun mereka merujuk pada penelitian yang menyebutkan ada bakteri dalam jenggot pria dalam jumlah yang mengkhawatirkan, kata Wendy Askew, MD, seorang dokter kebidanan dan kandungan di Institute for Women's Health di San Antonio.

"Rambut kemaluan saja tidak cukup untuk melindungi terhadap PMS," kata Sejal Shah, MD, dermatolog di New York City.

Bahkan sebaliknya, rambut kemaluan bisa membantu virus berkembang. Sebuah penelitian di Cina menyimpulkan HPV yang hadir di rambut kemaluan pria, bisa mengakibatkan masalah terkait hal yang sama pada pasangan wanita mereka.

Mitos 2: Rambut kemaluan membuat seks menjadi kurang menyenangkan

Fakta: Hal yang satu ini bervariasi dari orang ke orang. Banyak yang berpikir gesekan antara bulu kemaluan, membuat hubungan intim bertambah seksi. Tapi, ada juga yang merasa lebih intens jika terjadi kontak antar kulit langsung, bebas dari rambut kemaluan, jelas Askew.

"Secara teori, Anda bisa mendapatkan rangsangan secara lebih langsung tanpa adanya rambut kemaluan itu," katanya lagi. "Tapi semua itu tergantung pada apa yang Anda suka, berapa banyak stimulasi atau tekanan yang kita butuhkan untuk mencapai orgasme. Rambut kemaluan bisa dianggap mengurangi kenikmatan dan bisa juga tidak."

Mitos 3: Warna rambut kemaluan sesuai dengan warna rambut Anda

Fakta: Ini kepercayaan klasik. Lihatlah warna alis untuk prediksi yang lebih akurat. "Untuk sebagian besar orang, rambut kemaluan cenderung sewarna dengan warna alis," kata Askew.

Mitos 4: Rambut kemaluan yang lebat membuat libido pasangan turun

Fakta: Secara teknis, itu tergantung pada pasangan Anda, tapi ada beberapa bukti bahwa rambut kemaluan justru bisa menaikkan libido pasangan karena penuh feromon.

"Kelenjar sebaseus, yang ada pada ujung/bantalan rambut, menghasilkan sekresi berbau," kata Askew. "Kemudian, bercampur dengan bakteri pada kulit dan rambut, akan menghasilkan aroma yang disebut feromon.

Bau akan bertambah jika Anda memiliki rambut kemaluan atau jika Anda tidak membersihkannya karena bakteri akan berpopulasi di sana." Orang yang sensitif dengan aroma, bisa jadi tertarik dengan aroma feromon itu.

Mitos 5: Rambut kemaluan tidak pernah berhenti tumbuh

Fakta: Rambut berhenti tumbuh saat mencapai titik tertentu, kata Askew. "Pada dasarnya, rambut kemaluan akan berhenti tumbuh pada titik tertentu, kemudian akan gugur dan yang baru akan tumbuh," katanya.

Panjang rambut kemaluan bervariasi dari orang ke orang, tapi Shah mengatakan, umumnya rambut kemaluan berhenti tumbuh di panjang 1,2-5 Cm.

Mitos 6: Jika kulit Anda sensitif, Anda tidak perlu mencukur rambut kemaluan

Fakta: Tergantung pada bagaimana cara Anda mencukurnya. Jika Anda mencukur dengan agresif, terlalu dekat dengan kulit dan tanpa pelembab, Anda bisa terluka. Kemudian, bakteri bisa masuk ke dalam kulit dan menyebabkan infeksi dan peradangan. Bercukurlah dengan lembut dan sebaiknya gunakan pelembab.

Category: Kesehatan, SeksualitasTags:
Jayabet