Ahok Dituding Menghina Al Qur’an Surat Al-Maidah, Lihat Video Lengkapnya Dulu!

klg asli

berhasil

Foto Video youtube Lengkap Pernyataan Ahok yang Dituduh Hina Alquran Surat Al Maidah Bohong?

Wartainfo.com - Basuki T Purnama alias Ahok tengah dituding melakukan pelanggaran sebagai kandidat bakal calon gubernur DKI Jakarta. Dia dinilai melakukan tindakan penghinaan agama akibat mengutip surat dalam Alquran.

Gubernur DKI Jakarta itu mengutip surat Al Maidah ayat 51. Dalam surat itu menjelaskan bahwa umat muslim diperintahnya memilih pemimpin sesuai kaumnya. Namun, bagi Ahok keberadaan surat itu justru kerap menjadi alat untuk menyerang dirinya melalui kampanye hitam.

Menurut Ahok, tidak ada maksud politik saat mengutip surat Al Maidah itu. Sebab, dia mengaku hanya sekadar menyampaikan isinya. Ahok bahkan tidak merasa salah meski beragama Kristen Protestan mengutip kalimat dalam Alquran

"Semua firman Tuhan bisa dikutip kok. Kenapa aku enggak boleh ngutip firman Tuhan?" kata Ahok, Selasa (27/9) kemarin.

Laporan tuduhan Ahok hina agama dilakukan Perkumpulan Advokat yang tergabung dalam Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) ke Bawaslu DKI Jakarta. Ada dua laporan disampaikan kelompok ini.

Pertama, Basuki alias Ahok melanggar pasal 15 UU No. 40 tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis. Pada pasal ini Ahok dinilai melarang umat muslim untuk mematuhi perintah alquran.

Kedua, Ahok dituduh melanggar pasal 156 KUHP junto pasal 28 ayat 2 UU No. 11 tahun 2008 UU ITE tentang penghinaan terhadap agama. Menurutnya, Ahok tidak sepatutnya mengutip surat Al Maidah seenaknya. Padahal sebelumnya Ahok meminta agar lawannya di Pilgub DKI 2017 jangan SARA.

Hari ini beredar berita viral Ahok dituding melecehkan Alquran. Ada video yang sudah dipotong. Ucapan Ahok tersebut terlontar saat menggelar blusukan dan berdialog dengan masyarakat Kepulauan Seribu. Berikut video lengkap pidato Ahok yang dituding menghina Al-quran surat Al-Maidah:

Saat memberikan sambutan, Ahok sempat menyinggung mengenai Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta, salah satunya terkait isu pemimpin non Muslim.

Kalimat itu diucapkan Ahok di menit 23. Dia meminta warga Kepulauan Seribu tetap memilih dengan hati nurani, meski ada yang pihak yang membawa-bawa surat Al Maidah ayat 51.

NU Jakarta: Ucapan Ahok ditujukan ke orang yang politisasi agama

Wakil Katib Syuriah PWNU DKI-Jakarta, Taufik Damas menilai, tidak ada kata-kata Ahok yang dituding banyak pihak menistakan Alquran. Hal itu disimpulkannya setelah melihat dan mendengarkan secara utuh rekaman video pidato Ahok di Kepulauan Seribu yang berdurasi 1 jam 43 menit.

"Seharusnya kita lihat video aslinya yang utuh. Saya sudah melihat, dan suasananya sangat cair. Masyarakat tampak antusias dan gembira mendengarkan pidato Ahok ketika itu. Lagi pula, saya perhatikan ucapan Ahok itu tidak bermaksud melecehkah ayat dalam surat Al-Maidah itu. Ucapan Ahok itu bermakna memang ada orang yang yang menggunakan ayat tersebut dalam konteks pemilihan kepada daerah di Jakarta, khususnya menyangkut larangan memilih pemimpin non-muslim. Jadi titik tekannya adalah kalimat 'membohongi pakai ayat', bukan ayatnya yang membohongi," kata tokoh muda NU ini, Jumat (7/10).

Dia mengatakan, rekaman itu menjadi ramai karena potongan rekaman video yang menyebar justru hanya sekitar 30 detik, atau cuma sepotong. Rekaman 30 detik itu berisi pernyataan Ahok "Bapak ibu enggak bisa pilih saya, karena dibohongin pakai surat Al-Maidah 51, macam-macam itu. Itu hak bapak ibu ya. Jadi kalau bapak ibu perasaan enggak bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, enggak apa-apa. Karena ini kan hak pribadi bapak ibu. Program ini jalan saja. Jadi bapak ibu enggak usah merasa engga enak. Dalam nuraninya enggak bisa pilih Ahok".

Menurutnya, kalimat Ahok cukup jelas bahwa yang dituju adalah orang-orang yang menggunakan ayat untuk pentingan politik. Bukan menyebut bahwa yang berbohong adalah surat Al-Maidah 51.

"Namun, dalam politik tak menutup kemungkinan ada orang yang menjadikan ayat-ayat hanya sebagai alat politik. Memperlakukan ayat-ayat sebagai alat politik. Justru inilah yang berbahaya, karena berpotensi mengaburkan fakta politik yang sebenarnya," katanya.

Dia menilai sebaiknya unsur SARA benar-benar dihindari dalam politik karena akan selalu melahirkan kontroversi yang tak berujung. Menurut Taufik, lebih baik masyarakat diajak untuk berpikir kritis terhadap calon pemimpin yang ada, baik di Jakarta atau di daerah lain.

"Pilkada kan bukan hanya di Jakarta, tapi juga ada di daerah lain. Sikap kritis dan obyektif harus dikedepankan dalam melihat proses Pilkada ini," tukasnya. (wartainfo.com)

Category: Nasional, PolitikTags:
Jayabet