Apa Itu Penyakit Difteri dan Bagaimana Gejala Serta Cara Pencegahannya?

Gejalanya berupa sakit tenggorokan, sulit menelan, demam dengan suhu rendah sekitar 38 derajat celsius, kurang nafsu makan, sesak napas disertai bunyi, leher membengkak seperti leher sapi (bullneck) akibat dari pembengkakakan kelenjar leher, dan munculnya pseudomembran atau selaput putih keabu-abuan yang tidak mudah lepas.

Waspada Penyakit Difteri Pada Anak dan Orang Dewasa, Pencegahan Penyakit Difteri Disebabkan oleh virus bakteri dan penjelasannya

"Masa inkubasi mulai dari masuknya kuman sampai masuk gejala awal seperti susah menelan (dan) demam yang enggak terlalu tinggi itu 48 jam. Setelah itu timbul selaput. Lama-lama (selaput) muncul sedikit, lama-lama menyebar," ujar Kepala Divisi Infeksi Tropis Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Djatnika Setiabudi.

"Jika sudah menyebar dan tidak langsung diobati, bisa turun ke laring atau paru-paru. Kalau sudah seperti ini, leher harus dilubangi agar udara bisa keluar masuk. Ini merupakan racun, bahayanya kalau sudah menyebar ke jantung bisa menyebabkan kematian," ujarnya, Selasa (12/12/2017).

Mungkin gejala awal dari penyakit difteri dapat disangka sebagai penyakit saluran pernapasan pada umumnya.

"Klinisnya sama dengan sakit saluran napas yang lain, yang membedakan sangat khas adalah adanya selaput pseudomembran berwarna putih keabuan yang sangat merekat erat dengan pangkal tenggorokan," kata Djatnika.

Dia melanjutkan, kalau selaput ini diangkat, bisa berdarah karena dia merekat erat. Kemudian gejala khas yang lain adalah leher bengkak. Djatnika menambahkan, karena penyakit ini muncul akibat bakteri, demam yang akan muncul tidak terlalu tinggi. Akan tetapi, wajah pengidap tampak lemas.

Meski demikian, tidak semua orang yang terkontaminasi bakteri bisa langsung mengalami gejala-gejala penyakit di atas. Asal seseorang sedang dalam kondisi yang bugar dan imunisasi DPT-nya lengkap, kecil kemungkinannya untuk tertular.

Pola Penyebaran Penyakit Difteri

Bakteri pertama-tama akan menempel pada lapisan sistem pernafasan dan menghasilkan racun yang akan membunuh jaringan sehat. Hal ini dilakukan dengan cara mencegah sel menciptakan protein.

Setelah beberapa hari, bakteri ini dapat membunuh begitu banyak sel sehingga jaringan yang mati tadi membentuk lapisan keabu-abuan di hidung dan tenggorokan. Akibatnya, seseorang yang terinfeksi difteri akan sulit bernafas dan menelan.

Jika racun masuk ke aliran darah, maka difteri dapat ditransfer menuju organ vital seperti jantung dan ginjal. Pada akhirnya, penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan saraf, kelumpuhan, dan gagal napas.

Menariknya, ada dua lapisan infeksi yang terjadi di sini. Di balik bakteri yang menginfeksi manusia, ada virus yang menginfeksi bakteri tersebut sehingga menciptakan toksin.

Mengatasi Penyakit Difteri

Vaksin difteri yang sudah dibuat sejak tahun 1920-an membantu sistem kekebalan tubuh untuk mengenali toksin. Dewasa ini, orang mendapatkan vaksin difteri dalam vaksin DPT (Difteri, Pertusis, dan Tetanus).

Di Indonesia sendiri vaksin ini diberikan sebanyak lima kali, yaitu saat bayi berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 18 bulan, dan usia 4 sampai 6 tahun. Bila vaksin yang diterima sudah lengkap, seseorang dapat terhindar dari penyakit tersebut.

Selain itu, juga disarankan melakukan vaksinasi untuk orang dewasa setiap 10 tahun sekali, meskipun beberapa penelitian mengatakan bahwa tambahan setiap 30 tahun sekali sudah dirasa cukup.

Nah, bagaimana jika Anda sudah terlanjur terinfeksi difteri?

Satu-satunya jalan yang dapat dilakukan adalah mengonsumsi antitoksin dan antibiotik untuk menyingkirkan infeksi. Antitoksin akan menjaga tubuh dari bahaya lebih lanjut yang disebarkan racun, sedangkan antibiotik akan membunuh bakteri dalam 14 hari.

Tanpa pengobatan, difteri dapat menjadi masalah serius yang menyebabkan kematian. Namun, menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di AS, meski seseorang dengan difteri telah mendapatkan pengobatan, dia masih berpeluang meninggal. Rasionya yakni satu dari 10 orang untuk dewasa dan satu dari lima untuk anak balita. Sementara itu, yang tidak mendapat mengobatan, peluang meninggalnya satu dari dua pasien.

Mengapa Difteri Masih Menjadi Wabah di Beberapa Negara?

Salah satu alasan dan faktor utama infeksi dapat muncul kembali adalah karena vaksinasi yang dilakukan saat masih bayi atau balita di bawah 80 persen. Penolakan vaksin masih ada.

Banyaknya orangtua yang tidak mengindahkan vaksin, atau menyepelekan pentingnya vaksin lengkap untuk bayi, dapat meningkatkan penyakit-penyakit menular ini muncul dan menyerang.

Selain vaksin, faktor kekurangan gizi dan buruknya perawatan medis juga dapat memicu munculnya penyakit ini. Oleh sebab itu, bukan tidak mungkin jika penyakit yang telah hilang ini sewaktu-waktu dapat muncul kembali.

Di Indonesia sendiri, penyakit difteri ini disebut sudah hilang pada tahun 1990-an. Nyatanya, difteri muncul lagi dan mewabah. Sejak Januari hingga November 2017 sudah ada 593 kasus laporan difteri dan 32 kematian di 20 provinsi Indonesia. Hal ini meningkat sekitar 42 persen dari tahun 2016 di mana ada 415 kasus dengan 24 kematian.

Mulai hari ini (11/12/2017), Kemenkes akan melakukan imunisasi ulang atau Outbreak Response Immunization (ORI) di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Ketiga provinsi itu dipilih sebagai tempat pertama ORI karena jumlah prevalensi yang tinggi dan jumlah kepadatan masyarakat.

''Saat ini pengulangan akan dilakukan kepada anak-anak yang berusia 1 sampai 18 tahun,'' ucap Menteri Kesehatan RI, Nila Moeloek, dalam siaran rilis berita Kemenkes, Minggu (10/12/2017).

Lihat juga: 5 Penyakit Berbahaya Yang Mematikan Selain Jantung dan Kanker

Category: KesehatanTags: