5 Pasukan Elite Anti Teror Terbaik Yang Dimiliki Indonesia

Pasukan Elit Anti Teror Terbaik Indonesia

Wartainfo.com - Peristiwa teror bom yang terjadi di Jawa Timur hingga saat ini menjadi sorotan. Kejadian yang paling menyita perhatian adalah peledakan di tiga gereja Surabaya dan sebuah kamar di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo.

Aksi bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya dan Sidoarjo, dan terakhir di Polrestabes Surabaya yang menewaskan 21 orangĀ  beberapa hari lalu merupakan aksi teror yang kesekian kalinya terjadi di Indonesia. Secara khusus penanganan terorisme ditangani Detasemen Khusus Antiteror 88 Polri.

Baca juga: Mengenal 5 Pasukan Elite Filipina Yang Perangi Abu Sayyaf

Selain Densus 88, ada sejumlah pasukan khusus antiteror yang dimiliki aparat di luar kepolisian, dalam hal ini TNI. Dikutip dari CNNIndonesia, berikut ini pasukan-pasukan khusus antiteror terbaik yang dimiliki Indonesia.

1. Detasemen Khusus 88 Antiteror (Polri)

Densus 88 Antiteror Polri

Satuan khusus dari unsur kepolisian yang juga dikenal dengan nama Densus 88 ini ditugaskan untuk menangani segala macam ancaman teror, termasuk teror bom dan juga penyanderaan.

Komposisi tim ini terdiri dari ahli investigasi, ahli bahan peledak sebagai penjinak bom, dan unit pemukul yang di dalamnya terdapat ahli penembak jitu.

Densus 88 dirintis oleh Gories Mere dan diresmikan pada 26 Agustus 2004 oleh Kapolda Metro Jaya saat itu, Jenderal Polisi Firman Gani. Angka 88 yang disematkan berasal dari kata ATA (Anti-terorisme Act). Jika pelafalannya menggunakan logat Inggris menjadi berbunyi Ei Ti Ekt (eighty eight).

Sejumlah operasi yang pernah sukses dilakukan oleh Densus 88 diantaranya, penggerebekan buronan Dr Azhari di Kota Batu Malang, Jawa Timur pada 2005. Penangkapan Yusron Mamudi alias Abu Dujana di Banyumas, Jawa Tengah. Selain itu, Pengepungan teroris di Kampung Kepuhsari, Jebres, Solo. Dalam operasi ini 4 teroris tewas, salah satunya adalah Noordin M Top.

2. Detasemen Khusus 81 Kopassus (Sat-81 TNI AD)

Detasemen Khusus 81 Kopassus (Sat-81 Gultor TNI AD)

Pasukan khusus ini dikenal dengan nama Sat-81 atau dulu disebut sebagai Den-81 Gultor (Penanggulangan Teror). Pasukan ini dibentuk pada 30 Juni 1982.

Latar berlakang dibentuknya Sat-81 berawal dari keberhasilan Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha/kini Kopassus) melakukan pembebasan sandera oleh teroris yang membajak pesawat Garuda DC-9 Woyla di Thailand pada 31 Maret 1981. Operasi Kopassandha tersebut di bawah komando Benny Moerdani yang kala itu menjabat sebagai kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) ABRI.

Komandan pertama Sat-81 adalah Luhut Binsar Panjaitan dan wakilnya adalah Prabowo Subianto. Di masa awal pembentukan Sat-81 Luhut dan Prabowo harus dikirim ke GSG-9 (Grenzschutzgruppe-9) Jerman untuk mempelajari upaya penanggulangan teror.

Sekembalinya ke Indonesia, keduanya dipercaya menyeleksi dan melatih para prajurit Kopassandha yang akan ditugaskan bergabung ke Sat-81.

Ciri khas dari pasukan ini adalah bergerak dalam unit kecil dengan durasi penyelesaian singkat dalam menanggulangi serangan teroris. Sebagaimana visi dan misinya, "tidak diketahui, tidak terdengar, dan tidak terlihat".

Category: Militer, Serba - SerbiTags: